Headlines News :
Home » » Perempuan Tahu Pelakunya

Perempuan Tahu Pelakunya

Written By riki on Monday, April 1, 2013 | 4/01/2013 10:05:00 PM

Neena Bhandari



SYDNEY (IPS) – LYNETTE EDWARDS, bukan nama sebenarnya, tumbuh dengan menyaksikan ibunya dipukuli pasangannya setiap malam. Di SMA, Edwards bergaul dengan orang-orang lemah, mengira hal itu akan menjauhkannya dari pelecehan; tapi saat dia berumur 16 tahun, dua teman lelaki memperkosanya.
Umur 21, pasangannya menabrakkannya ke jendela kaca yang membuatnya terluka, termasuk di kepala yang perlu dijahit. Lain waktu pasangannya menyayat bibirnya, yang masih terlihat bekasnya.
“Kekerasan, dan kemungkinan masih, marak di kota-kota negara bagian Victoria dan perempuan hidup dalam ketakutan dibunuh anak lelaki dan lelaki bersenjata,” ujar Edwards, 57 tahun, kepada IPS.
“Berulangkali mendapat siksaan psikologis dan kekerasan fisik, saya merasa tak punya harga diri,” tambahnya.
Kekerasan semacam itu menjadi cerita umum –nyaris setiap pekan, seorang perempuan di Australia tewas di tangan pasangan atau mantan pasangan prianya, seringkali sesudah mengalami sejarah kekerasan domestik, menurut Australian Institute of Criminology.
Hampir satu dari lima perempuan pernah mengalami kekerasan seksual dan satu dari tiga perempuan menderita kekerasan fisik setelah umur 15 tahun. Dari semuanya, 85 persen dilecehkan pasangan atau mantan pasangannya, anggota keluarga, teman atau lelaki lain yang dikenal.
Tiga-perempat serangan fisik terjadi di rumah perempuan, menurut survei Biro Statistik Australia.
Kisah-kisah individual yang menyertai angka kekerasan dari pasangan intim menawarkan cara pandang bagaimana kejahatan terhadap perempuan itu terjadi.
Bronwyn Jones, bukan nama sebenarnya, kenal dengan pacarnya selama lima tahun sebelum dia memutuskan tinggal bersamanya. Seminggu kemudian, dia dilarang menemui teman-teman prianya, tak boleh mengenakan pakaian tertentu karena “membuatnya terlihat menarik”, dan dilarang mengunjungi orangtuanya.
“Dia sepenuhnya mengendalikan fisik dan mental saya. Setelah anak pertama kami lahir, saya meninggalkan pekerjaan saya dan kemudian dia juga mengontrol keuangan sepenuhnya. Dia membatalkan kartu kredit saya, mengambil ponsel saya, dan benar-benar mengisolasi saya dari keluarga dan teman-teman.”
“Saya terus-menerus dipermalukan dan dilecehkan secara seksual,” tutur Jones, yang mengalami pelecehan selama tujuh tahun sebelum pergi dengan membawa dua bayinya.
Bagi banyak perempuan, keluar dari hubungan penuh kekerasan, lebih-lebih jika sudah punya anak, sangatlah sulit. Kebanyakan, seperti Jones, hidup dalam ketakutan kalau-kalau diserang mantan pasangan sesudah mereka berpisah.
Elizabeth Broderick, anggota Komisi Diskriminasi Seksual Australia, berkata masalah ini sudah mencapai proporsi yang sangat besar.
“Kami tahu bahwa saat ini ada 1,2 juta perempuan yang hidup dalam hubungan intim ditandai dengan kekerasan fisik atau sebelumnya pernah mengalaminya,” katanya kepada IPS.
Angka itu menunjukkan hanyalah “puncak dari gunung es” dari penderitaan perempuan karena, di Australia, “kekerasan domestik dan keluarga jauh lebih luas dari cuma kekerasan fisik, dan hal ini termasuk kekerasan psikologis, emosional, spiritual, kultural, dan ekonomi –jadi angka itu mungkin bisa lebih besar lagi,” tambahnya.
Para ahli menyebut ketidaksetaraan jender sebagai akar penyebab kekerasan terhadap perempuan. Faktor lain ialah alkohol, pengangguran, tekanan keuangan, dan kurangnya dukungan sosial bagi korban.
Sebuah selimut tebal kebisuan menutupi pengalaman banyak perempuan dari pelecahan dan kekerasan. Para korban takut bicara terbuka atau memberi bukti karena takut atas aksi balasan, pelecehan, intimidasi, diusir dari rumah, dan biaya hukum yang tinggi.
Menurut Australian Component of the International Violence Against Women Survey (IVAWS), hanya satu dati tujuh perempuan yang mengalami kekerasan dari pasangan intim, dan hanya satu dari enam perempuan yang mengalami kekerasan dari bukan pasangan, menandakan mereka melaporkan peristiwa yang baru-baru ini mereka alami ke polisi.
Bagi banyak perempuan, bahkan tempat kerja tak menyediakan tempat berlindung dari pelecehan. Sembilanbelas persen reponden Survei Kekerasan Domestik dan Tempat Kerja Nasional 2011 menyebutkan kekerasan menghantui mereka di tempat kerja, termasuk melalui telepon dan email kasar serta pelaku muncul di tempat kerja korban.
Menurut survei pelecehan seksual dari Komisi Hak Asasi Manusia Australia tahun 2008, 22 persen perempuan berusia antara 18 dan 64 tahun mengalami pelecehan seksual di tempat kerja selama hidup mereka.

Lambatnya angin perubahan
Menurut Broderick, beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran dalam sikap dan tingkat toleransi terhadap kekerasan.
Karena upaya-upaya pada tahun lalu, “jutaan pekerja kini berhak atas Domestic Violence Leave (cuti jika mengalami kekerasan domestik) di luar perjanjian industrial mereka, jadi sudah ada langkah maju,” katanya.
Pemerintah Australia juga merumuskan Kerangka Nasional 12 tahun (2010-2022) untuk Mengurangi Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Disetujui pada Maret 2011, kerangka itu menetapkan tujuan pemerintah untuk “mencegah kekerasan dengan meningkatkan kesadaran dan membangun hubungan saling menghargai demi generasi berikutnya.”
Baru-baru ini, National Centre of Excellence didirikan berdasarkan kerangka itu, yang akan menyedikan titik pusat bagi para peneliti, pembuat kebijakan, serta praktisi di bidang domestik, keluarga, dan seksual untuk bergabung dan memberikan respon dan solusi berbasis bukti.
Komisi HAM Australia berpendapat, kerangka itu dapat melangkah lebih jauh dalam upaya menjelaskan konteks dan identitas berbeda, termasuk perempuan penyandang cacat, perempuan migran dan pengungsi, perempuan dengan seks, orientasi seksual, dan/ jender berbeda, dan perempuan yang lebih tua.
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan Aborigin dan Torres Strait Islander 45 kali lebih mungkin jadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga dan 35 kali lebih rentan dirawat di rumahsakit akibat kekerasan keluarga ketimbang perempuan nonpribumi.
Ikhtiar untuk mengatasi masalah sosial yang serius ini sangatlah dibutuhkan mengingat kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga adalah penyumbang utama kematian, cacat, dan penyakit pada perempuan berusia 15 hingga 44 tahun, menurut Victorian Health Promotion Foundation.
“Ini tidak bisa diterima dan jelas sebagai bagian dari masyarakat kita perlu mengembangkan budaya yang lebih menghormati perempuan: pertamadengan katakan tidak pada kekerasan dan mengakui dengan rasa malu pada pria yang melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan,” ujar Cathy Humphreys, ketua kerja sosial keluarga dan anak Alfred Felton di Universitas Melbourne.*

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Blogger templates

 
Support : Creating Website | Riki Arianto | Copyright#Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ruang Menulis dan Campur Sari - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template