Neena Bhandari
SYDNEY (IPS) – LYNETTE EDWARDS,
bukan nama
sebenarnya, tumbuh dengan menyaksikan ibunya dipukuli pasangannya setiap malam.
Di SMA, Edwards bergaul dengan orang-orang lemah, mengira hal itu akan menjauhkannya
dari pelecehan; tapi saat dia berumur 16 tahun, dua teman lelaki memperkosanya.
Umur 21, pasangannya menabrakkannya ke jendela kaca
yang membuatnya terluka, termasuk di kepala yang perlu dijahit. Lain waktu
pasangannya menyayat bibirnya, yang masih terlihat bekasnya.
“Kekerasan, dan kemungkinan masih, marak di kota-kota
negara bagian Victoria dan perempuan hidup dalam ketakutan dibunuh anak lelaki
dan lelaki bersenjata,” ujar Edwards, 57 tahun, kepada IPS.
“Berulangkali mendapat siksaan psikologis dan
kekerasan fisik, saya merasa tak punya harga diri,” tambahnya.
Kekerasan semacam itu menjadi cerita umum –nyaris
setiap pekan, seorang perempuan di Australia tewas di tangan pasangan atau
mantan pasangan prianya, seringkali sesudah mengalami sejarah kekerasan domestik,
menurut Australian Institute of
Criminology.
Hampir satu dari lima perempuan pernah mengalami
kekerasan seksual dan satu dari tiga perempuan menderita kekerasan fisik
setelah umur 15 tahun. Dari semuanya, 85 persen dilecehkan pasangan atau mantan
pasangannya, anggota keluarga, teman atau lelaki lain yang dikenal.
Tiga-perempat serangan fisik terjadi di rumah
perempuan, menurut survei Biro Statistik Australia.
Kisah-kisah individual yang menyertai angka kekerasan
dari pasangan intim menawarkan cara pandang bagaimana kejahatan terhadap
perempuan itu terjadi.
Bronwyn Jones, bukan nama sebenarnya, kenal dengan pacarnya selama lima tahun sebelum
dia memutuskan tinggal bersamanya. Seminggu kemudian, dia dilarang menemui
teman-teman prianya, tak boleh mengenakan pakaian tertentu karena “membuatnya
terlihat menarik”, dan dilarang mengunjungi orangtuanya.
“Dia sepenuhnya mengendalikan fisik dan mental saya.
Setelah anak pertama kami lahir, saya meninggalkan pekerjaan saya dan kemudian
dia juga mengontrol keuangan sepenuhnya. Dia membatalkan kartu kredit saya,
mengambil ponsel saya, dan benar-benar mengisolasi saya dari keluarga dan
teman-teman.”
“Saya terus-menerus dipermalukan dan dilecehkan secara
seksual,” tutur Jones, yang mengalami pelecehan selama tujuh tahun sebelum
pergi dengan membawa dua bayinya.
Bagi banyak perempuan, keluar dari hubungan penuh
kekerasan, lebih-lebih jika sudah punya anak, sangatlah sulit. Kebanyakan,
seperti Jones, hidup dalam ketakutan kalau-kalau diserang mantan pasangan
sesudah mereka berpisah.
Elizabeth Broderick, anggota Komisi Diskriminasi Seksual Australia, berkata masalah ini
sudah mencapai proporsi yang sangat besar.
“Kami tahu bahwa saat ini ada 1,2 juta perempuan yang
hidup dalam hubungan intim ditandai dengan kekerasan fisik atau sebelumnya
pernah mengalaminya,” katanya kepada IPS.
Angka itu menunjukkan hanyalah “puncak dari gunung es”
dari penderitaan perempuan karena, di Australia, “kekerasan domestik dan
keluarga jauh lebih luas dari cuma kekerasan fisik, dan hal ini termasuk
kekerasan psikologis, emosional, spiritual, kultural, dan ekonomi –jadi angka
itu mungkin bisa lebih besar lagi,” tambahnya.
Para ahli menyebut ketidaksetaraan jender sebagai akar
penyebab kekerasan terhadap perempuan. Faktor lain ialah alkohol, pengangguran,
tekanan keuangan, dan kurangnya dukungan sosial bagi korban.
Sebuah selimut tebal kebisuan menutupi pengalaman
banyak perempuan dari pelecahan dan kekerasan. Para korban takut bicara terbuka
atau memberi bukti karena takut atas aksi balasan, pelecehan, intimidasi,
diusir dari rumah, dan biaya hukum yang tinggi.
Menurut Australian
Component of the International Violence Against Women Survey (IVAWS), hanya satu dati tujuh
perempuan yang mengalami kekerasan dari pasangan intim, dan hanya satu dari
enam perempuan yang mengalami kekerasan dari bukan pasangan, menandakan mereka
melaporkan peristiwa yang baru-baru ini mereka alami ke polisi.
Bagi banyak perempuan, bahkan tempat kerja tak
menyediakan tempat berlindung dari pelecehan. Sembilanbelas persen reponden
Survei Kekerasan Domestik dan Tempat Kerja Nasional 2011 menyebutkan kekerasan
menghantui mereka di tempat kerja, termasuk melalui telepon dan email kasar
serta pelaku muncul di tempat kerja korban.
Menurut survei pelecehan seksual dari Komisi Hak Asasi
Manusia Australia tahun 2008, 22 persen perempuan berusia antara 18 dan 64
tahun mengalami pelecehan seksual di tempat kerja selama hidup mereka.
Lambatnya angin
perubahan
Menurut Broderick, beberapa tahun terakhir
terjadi pergeseran dalam sikap dan tingkat toleransi terhadap kekerasan.
Karena upaya-upaya pada tahun lalu, “jutaan pekerja
kini berhak atas Domestic Violence Leave (cuti jika mengalami
kekerasan domestik) di luar perjanjian industrial
mereka, jadi sudah ada langkah maju,” katanya.
Pemerintah Australia juga merumuskan Kerangka Nasional
12 tahun (2010-2022) untuk Mengurangi Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak.
Disetujui pada Maret 2011, kerangka itu menetapkan tujuan pemerintah untuk
“mencegah kekerasan dengan meningkatkan kesadaran dan membangun hubungan saling
menghargai demi generasi berikutnya.”
Baru-baru ini, National Centre of Excellence didirikan berdasarkan kerangka itu, yang akan
menyedikan titik pusat bagi para peneliti, pembuat kebijakan, serta praktisi di
bidang domestik, keluarga, dan seksual untuk bergabung dan memberikan respon
dan solusi berbasis bukti.
Komisi HAM Australia berpendapat, kerangka itu dapat
melangkah lebih jauh dalam upaya menjelaskan konteks dan identitas berbeda,
termasuk perempuan penyandang cacat, perempuan migran dan pengungsi, perempuan
dengan seks, orientasi seksual, dan/ jender berbeda, dan perempuan yang lebih
tua.
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan Aborigin dan Torres Strait Islander 45 kali lebih mungkin jadi
korban kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga dan 35 kali lebih rentan
dirawat di rumahsakit akibat kekerasan keluarga ketimbang perempuan nonpribumi.
Ikhtiar untuk mengatasi masalah sosial yang serius ini
sangatlah dibutuhkan mengingat kekerasan dalam rumah tangga dan keluarga adalah
penyumbang utama kematian, cacat, dan penyakit pada perempuan berusia 15 hingga
44 tahun, menurut Victorian
Health Promotion Foundation.
“Ini tidak bisa diterima dan jelas sebagai bagian dari
masyarakat kita perlu mengembangkan budaya yang lebih menghormati perempuan:
pertamadengan katakan tidak pada kekerasan dan mengakui dengan rasa malu pada
pria yang melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan,” ujar Cathy Humphreys, ketua kerja sosial keluarga
dan anak Alfred Felton di Universitas Melbourne.*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !