Issa Sikiti da Silva
DAKAR (IPS) – PENAMBANG skala kecil Kongo, Elizabeth Tshimanga, meraih sukses dari
pekerjaannya yang menjanjikan. Tapi seperti banyak penambang rakyat di Afrika,
dia harus melalui perjalanan berat dan panjang, yang diperburuk dengan
pelecehan dan sengketa mengena status legalnya sebagai penambang.
Perempuan yang kini berumur 50 tahun itu mulai bekerja
di daerah Kasai di jantung Republik Demokratik Kongo (DRC) saat usia 25 tahun,
sebelum pindah ke negara tetangga Angola tempat dia melanjutkan menambang
berlian.
“Saya menemui tantangan terbesar saya di Angola, di
mana pasukan keamanan dan para pejabat melecehkan para penambang dan pedagang,
menahan kami, dan memaksa banyak perempuan melakukan hubungan seksual dengan
mereka untuk menghindari masalah –mereka bahkan mengambil perempuan untuk
dibawa ke semak-semak lalu diperkosa beramai-ramai jika menolak melayani hasrat
seksual mereka,” ujarnya.
“Tapi hidup terus berjalan. Anda hanya perlu meyakinkan
diri Anda sendiri bahwa semua itu bagian dari hidup,” tuturnya kepada IPS sebelum menaiki pesawat dari Dakar
menuju Brussels, tempat dia menandatangani beberapa transaksi bisnis.
Tshimanga
tak lagi menambang. Tapi dia mempekerjakan 10 penambang skala kecil –enam di
DRC dan empat di Angola– dan mengatakan terus mengalami pelecehan dan gagal
mendapatkan izin penambangan.
Insisden perkosaan juga masih, ujarnya. Dia sendiri
menyaksikan satu peristiwa itu beberapa tahun lalu di Angola. Namun selama
pemerintah menolak mengakui pertambangan rakyat dan skala kecil (ASM) sebagai
sebuah mara pencaharian, ujarnya, masalah dan tantangan itu takkan pudar.
Menurut South
African Institute for International Affairs (SAIIA), sebuah lembaga riset nonpemerintah, kegiatan
ASM di Afrika melibatkan lebih dari delapan juta pekerja, yang pada gilirannya
memberi nafkah sekitar 45 juta orang.
Lembaga itu menyatakan, para penambang rakyat di
ladang berlian Marange, Zimbabwe, meningkat dari hanya segelintir pada 2004 menjadi
sekira 35.000 orang pada 2007. Di Ghana, ASM menyumbang sembilan persen dari
total produksi emas pada 2000, tapi pada 2010 naik hingga 23 persen, dengan
dari sejuta rakyat Ghana secara langsung menggantungkan mata pencaharian mereka
pada ASM.
Marieke Heemskerk, antropolog yang lebih dari 30 tahun punya pengalaman meneliti sektor
ASM dan bekerja dengan para penambang emas rakyat di Amerika Latin, Nigeria,
dan Senegal, mengatakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi para penambang
skala kecil adalah status hukum mereka.
“Sulit berinvestasi dalam usaha pertambangan secara
layak tanpa izin penambangan karena bank takkan memberi pinjaman dan penambang
sendiri tak punya kepastian akan diizinkan tinggal di sebuah lokasi tertentu.”
“Di banyak negara, proses perizinan teramat lama,
birokratis, kompleks, tak transparansi, dan bahkan korup. Akibatnya, orang kaya
dan kuat bisa mendapatkan izin penambangan, tapi orang miskin di daerah
pedalaman yang tiada koneksi politik
takkan memperolehnya.”
Hambatan itu yang terus membuntuti Tshimanga. “Masalah lain adalah izni pertambangan, yang teramat
kompleks dan sulit mendapatkannya. Anda harus punya koneksi politik atau, jika
Anda perempuan, Anda harus menjadi kekasih dari salah satu pejabat tinggi
sebelum memperoleh izin itu,” tuturnya.
Menurut SAIIA, pertambangan rakyat dan skala kecil
merupakan masalah pelik bagi pemerintah dan perusahaan pertambangan skala besar
(LSM) karena kerapkali para penambang rakyat beroperasi di daerah terpencil,
area yang belum diatur dan sensitif secara lingkungan, sulit untuk dikenai
pajak, dan menghadapi tantangan keamanan karena mereka beroperasi di sekitar
lokai tambang LSM.
Heemskerk,
yang tinggal di Suriname, utara Amerika Selatan, menambahkan: “Di banyak
tempat, kami melihat tindakan pemerintah terhadap para penambang liar, dari
mengebom hingga membakar peralatan mereka maupun mengusir mereka dengan aparat
militer.”
Adama Dieng
adalah penambang skala kecil asal Senegal. Dia tak pernah makan bangku
sekolahan. Dia mengumpulkan sedikit kekayaan di Angola. Dia memiliki gedung
tiga lantai, membuka tiga minimarket di Dakar, dan punya binis di seluruh
Afrika Barat. Dia bahkan mengirim empat anaknya ke Eropa dan lima di antaranya
untuk sekolah.
Namun kekayaannya diperoleh melalui jalan berat, dari
pertambangan skala kecil di tengah-tengah perang sipil Angola yang bermula pada
1975 dan terus berlangsung hingga 2002.
“Kami melewati segala macam marahabaya, termasuk
penahanan rutin, pemukulan dan pemerasan oleh tentara dan pemberontak, dan kami
mempertaruhkan nyawa.” Tak pelak lagi, sebagaimana ucapannya, pertambangan
skala kecil adalah “salah satu mata pencaharian paling berbahaya tapi
menguntungkan.”
“Saya masih punya banyak respek terhadap sektor yang
memberikan pekerjaan bagi jutaan orang dan mengangkat banyak orang keluar dari
jerat kemiskinan global ini, kendati berisiko,” ujarnya kepada IPS.
Tetapi dia mengkritik sikap negatif dari pemerintah
Afrika dan perusahaan-perusahaan tambang besar terhadap ASM.
“Tanah dan semua kekayaan yang dikandungnya adalah milik
rakyat negeri ini. Tetapi para politisi dan perusahaan raksasa ingin mengeruk
untuk diri mereka sendiri. Sebagian besar rakyat Afrika miskin, mereka tak
melakukan apapun untuk kami. Kami menderita sementara para politisi dan bos-bos
LSM hidup bagai raja dan pangeran. Mengapa mereka tak memberi kesempatan kepada
kami untuk meningkatkan taraf hidup kami?” tanya dia.
Sarah Best, peneliti senior di International Institute for Environment and
Development
(IIED), sebuah organisasi nirlaba berbasis di London yang mempromosikan
pola-pola pembangunan dunia berkelanjutan, mengatakan bahwa, ketimbang menekan
kegiatan ASM, yang seringkali membuat situasi menjadi lebih buruk, pemerintah
dan perusahaan besar harus mengubah pola pikir mereka dan mengakui ASM karena
sama-sama sangat produktif dan bagian sah dari sektor pertambangan.
“Pemerintah umumnya mengabaikan pertambangan skala
kecil di pinggiran. Langkah pertama untuk kerjasama ialah mengembangkan
pengetahuan dan pemahaman bersama tentang sektor tersebut,” ujar Best.
Dia juga berujar, penelitian terbaru IIED mengenai ASM
menunjukkan tiga kesenjangan utama tentang bagaimana pengetahuan membentuk
kebijakan. “Pertama, pengetahuan yang ada tidak dibagi. Kedua, sebagian besar
pengalaman penambang skala kecil dan komunitas lokal diabaikan.”
“Ketiga, tak ada ruang multi-stakeholder di mana
individu yang punya komitmen dan organisasi dari berbagai sektor bahu-membahu
membangun kepercayaan, saling belajar, berinovasi, dan mencari solusi bersama,”
ujarnya.
Antropolog Heemskerk mengatakan, legalisasi dan
formalisasi penambang emas skala kecil akan menjadi langkah pertama yang
mumpuni untuk mengatasi masalah kesehatan, sosial, dan lingkungan yang dihadapi
sektor tersebut.
“Anda tak bisa mengatur orang yang dianggap ilegal.
Kita juga harus tak melupakan bahwa pertambangan emas skala kecil menawarkan
pekerjaan bagi jutaan orang miskin, yang mungkin tak punya banyak pilihan untuk
memperoleh penghasilan.”
“Dengan demikian, ia meretas masalah sosial ekonomi.
Ia mengurangi migrasi desa ke kota (mencegah munculnya rumah-rumah kumuh di
kota-kota besar) dan meningkatkan konsumsi –hampir semua uang yang didapatkan
penambang emas skala kecil dibelanjakan di negerinya sendiri.”*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !