Headlines News :
Home » » Dari Bahaya hingga Legalitas Penambang Kecil

Dari Bahaya hingga Legalitas Penambang Kecil

Written By riki on Monday, April 1, 2013 | 4/01/2013 10:03:00 PM

Issa Sikiti da Silva

DAKAR (IPS) – PENAMBANG skala kecil Kongo, Elizabeth Tshimanga, meraih sukses dari pekerjaannya yang menjanjikan. Tapi seperti banyak penambang rakyat di Afrika, dia harus melalui perjalanan berat dan panjang, yang diperburuk dengan pelecehan dan sengketa mengena status legalnya sebagai penambang.
Perempuan yang kini berumur 50 tahun itu mulai bekerja di daerah Kasai di jantung Republik Demokratik Kongo (DRC) saat usia 25 tahun, sebelum pindah ke negara tetangga Angola tempat dia melanjutkan menambang berlian.



“Saya menemui tantangan terbesar saya di Angola, di mana pasukan keamanan dan para pejabat melecehkan para penambang dan pedagang, menahan kami, dan memaksa banyak perempuan melakukan hubungan seksual dengan mereka untuk menghindari masalah –mereka bahkan mengambil perempuan untuk dibawa ke semak-semak lalu diperkosa beramai-ramai jika menolak melayani hasrat seksual mereka,” ujarnya.
“Tapi hidup terus berjalan. Anda hanya perlu meyakinkan diri Anda sendiri bahwa semua itu bagian dari hidup,” tuturnya kepada IPS sebelum menaiki pesawat dari Dakar menuju Brussels, tempat dia menandatangani beberapa transaksi bisnis.
Tshimanga tak lagi menambang. Tapi dia mempekerjakan 10 penambang skala kecil –enam di DRC dan empat di Angola– dan mengatakan terus mengalami pelecehan dan gagal mendapatkan izin penambangan.
Insisden perkosaan juga masih, ujarnya. Dia sendiri menyaksikan satu peristiwa itu beberapa tahun lalu di Angola. Namun selama pemerintah menolak mengakui pertambangan rakyat dan skala kecil (ASM) sebagai sebuah mara pencaharian, ujarnya, masalah dan tantangan itu takkan pudar.
Menurut South African Institute for International Affairs (SAIIA), sebuah lembaga riset nonpemerintah, kegiatan ASM di Afrika melibatkan lebih dari delapan juta pekerja, yang pada gilirannya memberi nafkah sekitar 45 juta orang.
Lembaga itu menyatakan, para penambang rakyat di ladang berlian Marange, Zimbabwe, meningkat dari hanya segelintir pada 2004 menjadi sekira 35.000 orang pada 2007. Di Ghana, ASM menyumbang sembilan persen dari total produksi emas pada 2000, tapi pada 2010 naik hingga 23 persen, dengan dari sejuta rakyat Ghana secara langsung menggantungkan mata pencaharian mereka pada ASM.
Marieke Heemskerk, antropolog yang lebih dari 30 tahun punya pengalaman meneliti sektor ASM dan bekerja dengan para penambang emas rakyat di Amerika Latin, Nigeria, dan Senegal, mengatakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi para penambang skala kecil adalah status hukum mereka.
“Sulit berinvestasi dalam usaha pertambangan secara layak tanpa izin penambangan karena bank takkan memberi pinjaman dan penambang sendiri tak punya kepastian akan diizinkan tinggal di sebuah lokasi tertentu.”
“Di banyak negara, proses perizinan teramat lama, birokratis, kompleks, tak transparansi, dan bahkan korup. Akibatnya, orang kaya dan kuat bisa mendapatkan izin penambangan, tapi orang miskin di daerah pedalaman yang tiada koneksi politik  takkan memperolehnya.”
Hambatan itu yang terus membuntuti Tshimanga. “Masalah lain adalah izni pertambangan, yang teramat kompleks dan sulit mendapatkannya. Anda harus punya koneksi politik atau, jika Anda perempuan, Anda harus menjadi kekasih dari salah satu pejabat tinggi sebelum memperoleh izin itu,” tuturnya.
Menurut SAIIA, pertambangan rakyat dan skala kecil merupakan masalah pelik bagi pemerintah dan perusahaan pertambangan skala besar (LSM) karena kerapkali para penambang rakyat beroperasi di daerah terpencil, area yang belum diatur dan sensitif secara lingkungan, sulit untuk dikenai pajak, dan menghadapi tantangan keamanan karena mereka beroperasi di sekitar lokai tambang LSM.
Heemskerk, yang tinggal di Suriname, utara Amerika Selatan, menambahkan: “Di banyak tempat, kami melihat tindakan pemerintah terhadap para penambang liar, dari mengebom hingga membakar peralatan mereka maupun mengusir mereka dengan aparat militer.”
Adama Dieng adalah penambang skala kecil asal Senegal. Dia tak pernah makan bangku sekolahan. Dia mengumpulkan sedikit kekayaan di Angola. Dia memiliki gedung tiga lantai, membuka tiga minimarket di Dakar, dan punya binis di seluruh Afrika Barat. Dia bahkan mengirim empat anaknya ke Eropa dan lima di antaranya untuk sekolah.
Namun kekayaannya diperoleh melalui jalan berat, dari pertambangan skala kecil di tengah-tengah perang sipil Angola yang bermula pada 1975 dan terus berlangsung hingga 2002.
“Kami melewati segala macam marahabaya, termasuk penahanan rutin, pemukulan dan pemerasan oleh tentara dan pemberontak, dan kami mempertaruhkan nyawa.” Tak pelak lagi, sebagaimana ucapannya, pertambangan skala kecil adalah “salah satu mata pencaharian paling berbahaya tapi menguntungkan.”
“Saya masih punya banyak respek terhadap sektor yang memberikan pekerjaan bagi jutaan orang dan mengangkat banyak orang keluar dari jerat kemiskinan global ini, kendati berisiko,” ujarnya kepada IPS.
Tetapi dia mengkritik sikap negatif dari pemerintah Afrika dan perusahaan-perusahaan tambang besar terhadap ASM.
“Tanah dan semua kekayaan yang dikandungnya adalah milik rakyat negeri ini. Tetapi para politisi dan perusahaan raksasa ingin mengeruk untuk diri mereka sendiri. Sebagian besar rakyat Afrika miskin, mereka tak melakukan apapun untuk kami. Kami menderita sementara para politisi dan bos-bos LSM hidup bagai raja dan pangeran. Mengapa mereka tak memberi kesempatan kepada kami untuk meningkatkan taraf hidup kami?” tanya dia.
Sarah Best, peneliti senior di International Institute for Environment and Development (IIED), sebuah organisasi nirlaba berbasis di London yang mempromosikan pola-pola pembangunan dunia berkelanjutan, mengatakan bahwa, ketimbang menekan kegiatan ASM, yang seringkali membuat situasi menjadi lebih buruk, pemerintah dan perusahaan besar harus mengubah pola pikir mereka dan mengakui ASM karena sama-sama sangat produktif dan bagian sah dari sektor pertambangan.
“Pemerintah umumnya mengabaikan pertambangan skala kecil di pinggiran. Langkah pertama untuk kerjasama ialah mengembangkan pengetahuan dan pemahaman bersama tentang sektor tersebut,” ujar Best.
Dia juga berujar, penelitian terbaru IIED mengenai ASM menunjukkan tiga kesenjangan utama tentang bagaimana pengetahuan membentuk kebijakan. “Pertama, pengetahuan yang ada tidak dibagi. Kedua, sebagian besar pengalaman penambang skala kecil dan komunitas lokal diabaikan.”
“Ketiga, tak ada ruang multi-stakeholder di mana individu yang punya komitmen dan organisasi dari berbagai sektor bahu-membahu membangun kepercayaan, saling belajar, berinovasi, dan mencari solusi bersama,” ujarnya.
Antropolog Heemskerk mengatakan, legalisasi dan formalisasi penambang emas skala kecil akan menjadi langkah pertama yang mumpuni untuk mengatasi masalah kesehatan, sosial, dan lingkungan yang dihadapi sektor tersebut.
“Anda tak bisa mengatur orang yang dianggap ilegal. Kita juga harus tak melupakan bahwa pertambangan emas skala kecil menawarkan pekerjaan bagi jutaan orang miskin, yang mungkin tak punya banyak pilihan untuk memperoleh penghasilan.”
“Dengan demikian, ia meretas masalah sosial ekonomi. Ia mengurangi migrasi desa ke kota (mencegah munculnya rumah-rumah kumuh di kota-kota besar) dan meningkatkan konsumsi –hampir semua uang yang didapatkan penambang emas skala kecil dibelanjakan di negerinya sendiri.”*

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Blogger templates

 
Support : Creating Website | Riki Arianto | Copyright#Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ruang Menulis dan Campur Sari - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template