Martin Khor
MUMBAI (IPS) – SAYA baru-baru ini menghabiskan
waktu di Mumbai dengan seorang pria yang bisa dibilang telah melakukan banyak
hal ketimbang siapapun di dunia untuk menyelamatkan jutaan nyawa orang dengan
AIDS dan penyakit lainnya.
Orang itu, Yusuf
Hamied, adalah salah
satu pemilik, direktur pelaksana, dan sosok yang menonjol di Cipla, salah satu
perusahaan obat generik terbesar di India. Sifatnya sungguh luar biasa. Gagasan
dan kata-kata yang mengalir darinya bagai arus deras, bergerak dari satu topik
ke topik lain.
Itu tampaknya datang dari kombinasi pemikiran ilmiah
yang brilian (dia bergelar PhD ilmu Kimia dari Cambridge), hasrat untuk
mengatasi ketidakadilan dan berbuat baik bagi orang-orang melarat, keahlian mengubah
gagasan menjadi aksi praktis, dan kemampuan bisnis untuk menangguk laba pada
saat yang sama.
Hamied adalah kekuatan pendorong utama bagi
ketersediaan obat antiretroviral (AVR) HIV/AIDS yang cukup murah sehingga masyarakat
miskin di negara-negara berkembang, terutama di Afrika, dapat mengaksesnya.
Dalam prosesnya, dia serta jejaring aktivis kesehatan
dan organisasi internasional mesti menghadapi sistem yang tertanam kuat di mana
segelintir korporasi obat-obatan multinasional, didukung hak paten, memonopoli
pasar obat-obatan AIDS.
Pengobatan sekali bisa keluar biaya 12.000 hingga
15.000 dolar per pasien saban tahun. Tapi Hamied mengombinasikan tiga ARV dalam
satu pil yang disebut triomune,
sehingga lebih mudah dan efektif bagi pasien untuk membeli, dan menawarkannya
sekira 350 dolar tiap pasien per tahun.
Itu terjadi pada 2001, dan pernyataannya mengelisahkan
industri obat-obatan multinasional yang menyebutnya “perompak”. Namun dia juga
membangkitkan kegembiraan dan harapan besar di antara pasien AIDS dan kelompok
pendukung mereka di seluruh dunia. Bagi mereka, Hamied bak Robin Hood.
Menengok kembali pada 2001, hanya 4.000 warga Afrika
yang bisa mendapatkan produk bermerek yang harganya selangit. Tahun lalu, lebih
dari delapan juta orang memakai obat generik AIDS, yang harganya sudah turun
hingga sekira 85 dolar per pasien per tahun, menurut badan Persatuan
Bangsa-Bangsa.
Bukti menunjukkan, sudah banyak nyawa terselamatkan
atau hidupnya lebih panjang karena obat-obatan itu, 85 persen di antaranya
berasal dari perusahaan-perusahaan India. Tapi, mengingat hampir 40 juta orang
di seluruh dunia menderita AIDS, masih banyak yang harus dilakukan.
Hamied kini mengalihkan perhatian ke kanker. Tahun
lalu Cipla memangkas harga tiga obat generik antikanker hingga 75 persen.
“Waktunya sudah tiba untuk … menyediakan obat-obatan terjangkau untuk kanker,
sebagaimana kita lakukan untuk obat AIDS,” ujarnya.
Dalam kasus salah satu obat kanker, sorafenib, produk paten Bayer itu dihargai 5,091 dolar untuk perawatan sebulan, jauh
melampauai kemampuan pasien-pasien di India. Perusahaan India lain, Natco,
memperoleh lisensi wajib (compulsory licence) obat itu dan menjual versi
generiknya seharga 160 dolar, sementara Cipla tahun lalu memotong harga obat
versinya menjadi 124 dolar.
Hamied juga melewati ilmu terbaru tentang penyakit
lain, dan menggali solusi untuk sejumlah masalah kesehatan.
Ketika saya tanya soal epidemi flu burung yang
diantipasi beberapa tahun lalu, penyebaran malaria yang tahan terhadap obat,
dan ancaman tuberculosis (TB) yang tahan beragam obat, Hamied menjawabnya
dengan usaha, dulu dan sekarang, dengan membuat obat generik terus tersedia.
Dia memberi saya sebuah makalah ilmiah tentang obat tertentu
yang menurutnya adalah kesempatan terbaik untuk menangani bentuk-bentuk
resisten mematikan dari TB, mengindikasikan dia tengah menjajaki bagaimana
memproduksinya.
Cipla kini memproduksi lebih dari 2.000 jenis obat
dalam 65 kategori pengobatan, mempekerjakan 20.000 orang, memiliki 34 fasilitas
produksi, menjualnya ke 170 negara, dan mereguk laba dengan penjualan tahunan
melebihi 1,4 milyar dolar.
Itu menjadikannya jawara generik, didorong semangat
nasionalis dan kemandirian Mahatma Gandhi, yang mengunjungi kantor Cipla pada
1939. Dia minta pemiliknya saat itu K.A.
Hamied (ayah
Yusuf) untuk memulai pembuatan obat-obatan lokal karena minimnya stok obat
lantaran perang di Eropa.
Hamied melihat beberapa masalah yang mungkin menabiri
masa depan industri India.
Pertama, pengenalan produk paten di India pada 2005,
yang sejalan dengan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Perusahaan lokal
kini membutuhkan lisensi wajib dari pemerintah untuk memproduksi versi generik
dari obat-obatan baru yang dipatenkan.
“Prosesnya rumit untuk mengajukan permohonan dan
mendapatkan lisensi wajib untuk setiap obat paten,” katanya. “Apa yang
dibutuhkan adalah sistem lisensi wajib otomotis, dengan membayar royalti empat
persen kepada pemilik paten.”
Kanada dan India punya sebuah sistem seperti itu di
masa lalu, dan hal ini harus diterapkan lagi, karena India dan negara-negara
berkembang lainnya takkan mampu memonopoli dan menjangkau harga obat-obatan
yang selangit.
Kedua, perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang sedang
dinegosiasikan mana beberapa negara berkembang, termasuk India, dengan Eropa
atau AS. Hamied menegaskan bahwa FTA memuat ketentuan-ketentuan yang akan
menghambat atau menghentikan produksi obat-obatan generik baru di negara-negara
yang meneken perjanjian tersebut.
Ketiga, perlunya memproduksi bahan baku farmasi aktif
(API), yang merupakan bahan penting dalam obat-obatan. Sementara banyak negara
mampu membuat produk jadi dalam bentuk dan dosis yang diperlukan, hanya
beberapa negara berkembang (terutama India dan China) yang punya kemampuan membuat
API.
Hamied mewanti-wanti bahwa India sudah kekurangan API yang
dibutuhkan industrinya, dan sangat bergantung pada impor. “Jika China dan India
tak menyediakan API untuk dunia, industri farmasi dunia mungkin ambruk.”
Menurut Hamied, India juga butuh kebijakan harga obat
yang lebih baik dan sistem regulasi obat-obatan yang lebih efesien, mengingat
ada banyak obat generik baru yang antri mendapat pengesahan (safety
clearance) tapi terhambat keputusan yang tertunda-tunda.*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !