Oleh : Riki Arianto
Jika kita merenung seperti seorang filsuf, arti dari bahan pustaka itu bisa menjurus
dengan hasil penuangan ide, pikiran, keinginan, rasa/emosi, karya serta
pengalaman manusia ke dalam benda baik berupa kertas, film, piringan hitam,
caset video, kulit binatang, kulit kayu atau tumbuhan, batu dan sebaginya untuk
diketahui pihak lain atau pembaca. Mungkin berupa pesan/petuah. catatan
peristiwa/kejadian, kepercayaan, penemuan dan sebagainya yang secara umum
disebut informasi.
Bertolak
pada hasil pemikiran di atas, maka perpustakaan ada sejak zaman purba. sejak
manusia tinggal di goa dan menuangkan hasil pikiran dan kepercayaannya berupa
gambar-gambar di dinding goa tersebut untuk berkomunikasi dan menyampaikan
informasi kepada pihak lain.
Namun
menurut kajian, perpustakaan yang teratur bermula kira-kira pada abad ke-13 SM
yang lalu yaitu di Sumeria. Tepatnya di Kota Niniveh. Perpustakaan ini
koleksinya berasal dari keluarga raja yang bernama Asurbanipal. Koleksi bahan
pustakanya terbuat dari tanah liat, yaitu dengan cara membakar atau menjemur di
bawah terik matahari tanah liat yang sudah dibentuk sehingga menjadi tablet
tanah liat. Tulisan yang digunakan pada tanah liat tersebut berupa huruf paku.
Tapi ada
juga literatur yang mengatakan di Mesir pada abad ke-3 SM, kota Sumeria/Babilonia
juga ada perpustakaan milik raja-raja
Alexandria. Bahan Pustaka terbuat dari tanaman gelagah yang tumbuh di
Sungai Nil. Tanaman itu diolah menjadi kertas papirus dan digulung menjadi gulungan papirus.
Tulisnnya berupa Hiroglip, dari tulisan inilah asal mula tulisan yang kita
pakai sekarang.
Di
pergamon, Eumenes II ada perpustakaan yang bahan pustakanya berupa pairus dan
perkamen. Perkamen terbuat dari kulit binatang terutama kambing dan sapi.
Perpustakaan ini sejarahnya bersamaan dengan Perpustakaan Alexandria. Sama
halnya dengan di Yunani dan Roma,
perpustakaannya cukup baik namun tidak terbuka unutk umum. Hanya raja-raja dan
keluarga saja yang boleh menggunakannya.
Berlanjut
pada zaman pertengahan. Pada zaman ini perpustakan banyak terdapat di Gereja
dan Mesjid. Bahan pustakanya berupa Perkamen dan Kertas dan terus berkembang ke
zaman renaissance. untuk bahan pustaka kertas pertama kali dipakai oleh bangsa
Cina tahun 105 setelah masehi. Kertas ini ditemukan oleh Tsia Lun dan menyebar
kewilayah barat melalui Turkestan, Bagdad, Mesir, Tripoli, Frabrino-Italia,
Jerman, Inggris dan akhirnya sampai ke Amerika pada abad ke-17.
Pada
revolusi Perancis, Perpustakaan milik raja dirampas dan dijadikan perpustakaan
umum rakyat. Sejak itulah perpustakaan dapat dinikmati rakyat-tidak hanya raja
dan keluarga.
Bagaimana
dengan di Indonesia ?. Menurut sunber sejarah tertulis, perpustakaan di
Indonesia dalam arti modern didirikan tahun 1778. Berawal dari Perpustakaan
Bataviasch Genostchap Van Kunsten en Wetenschappen yang kemudian menjadi
Perpustakaan Museum Pusat Jakarta. Namun, berdasarkan keputusan Mendikbud
No.0200/O/1980, tepatnya pada tanggal 21 Juli 1980 tentang Pembentukan
Perpustakaan Nasional, maka Perpustakaan Museum tersebut diintegrasikan kedalam
Perpustakaan Nasional dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sejak 6
Maret 1989, dikeluarkan Kepres No.11 Tahun 1989 Perpustakaan Nasional tidak
lagi berada di bawah Depdikbud lagi, tapi langsung berada di bwah Presiden RI
yang sehari-harinya di bawah Sekretariat Negara. Di tingkat propinsi juga sama-
berada dibawah Gubernur dan menjadi Perpustakaan Daerah.


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !