Headlines News :
Home » » Tsunami Himalaya Buatan Manusia?

Tsunami Himalaya Buatan Manusia?

Written By riki on Thursday, October 3, 2013 | 10/03/2013 06:57:00 PM

 sumber:www.elpopular.pe


Sujoy Dhar


NEW DELHI (IPS) –DI pinggiran Rudraprayag, sebuah kota di negara bagian Uttarakhand, India utara, yang candi-candinya menarik wisatawan dan peziarah Hindu, para pengunjung sering berhenti untuk makan di sebuah hotel terkenal yang dibangun tepat di atas Sungai Alakananda.
Sebagai salah satu dari dua hulu sungai Gangga, sumber kehidupan yang suci bagi masyarakat India yang mengalir dari moncong Gomukh, dari gletser terbesar Gangotri di pegunungan Himalaya, Alakananda dipuja sebagai dewi.
Karena tarif menginap semalam di hotel murah, wisatawan dalam dan luar negeri datang ke sini untuk menikmati pemandangan dari balkon yang menghadap ke pegunungan dan gletser yang menyelimuti 90 persen negara bagian ini.
Seindah kedengarannya, hotel ini tanpa disadari berperan dalam salah satu bencana alam terburuk yang pernah terjadi di negara bagian ini. Pada 15 Juni, banjir bandang yang disebabkan hujan deras dan mencairnya es menyapu ribuan peziarah yang tak pernah menduga dalam apa yang para ilmuwan sebut sebagai “tsunami Himalaya”.
Menteri kepala negara bagian mengatakan Kamis lalu bahwa jumlah korban tewas bisa melebihi 1.000 jiwa, dengan 300 mayat ditemukan pagi ini terkubur di bawah lumpur di sisi candi terbesar di kota Kedarnath.
Tak terhitung turis yang terjebak selama berhari-hari dalam kondisi mengenaskan sampai Angkatan Bersenjata India datang untuk menyelamatkan mereka satu demi satu lewat udara.
Ribuan orang masih hilang dan banyak kota dan situs ziarah tak dapat diakses, seolah air yang mengamuk membawa seluruh badan jalan, bersama rumah-rumah, toko, dan korban.
Karena pemerintah berupaya merampungkan operasi penyelamatan secara tak sistematis, para ahli lingkungan menengok ke belakang, menekankan bahwa bencana itu bukan hanya bencana alam yang aneh tapi hasil pembangunan tak terkendali di Tanah Dewata.

Proyek PLTA
Selama bertahun-tahun, industri pariwisata yang berkembang pesat, dimungkinkan oleh pembangunan ribuan wisma ilegal, telah melahirkan proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air berskala besar di sungai itu, sementara pembangunan infrastruktur yang dirancang untuk mengakomodasi lonjakan pengunjung terus mengurangi dan memberi tekanan berlebihan pada zona ekologi yang rapuh ini.
Para ilmuwan juga mengatakan pembendungan Gangga, perambahan sungai, dan kegiatan pertambangan mendatangkan malapetaka di wilayah tersebut.
“Tak (pernah) ada analisis dampak lingkungan atau sosial yang kredibel atas ratusan proyek tersebut,” ujar Himanshu Thakkar, koordinator South Asia Network on Dams, Rivers and People, kepada IPS.
Menurut Mallika Bhanot, anggota Ganga Ahvaan, sebuah forum publik untuk menyelamatkan sungai suci itu, sekitar 244 bendungan sedang dibangun di sepanjang saluran air, sementara hanya tiga yang dibatalkan setelah membentang 100 km, dari mulut glasial Gomukh ke kota Uttarkashi, yang ditetapkan sebagai zona ekologi sensitif (ESZ) pada Desember 2012.
“Bahkan pemberitahuan pemerintah di New Delhi ditentang pemerintah Uttarakhand,” ujar Bhanot kepada IPS, padahal ia dirancang setelah evaluasi menyeluruh terhadap topografi, dan dengan tujuan menyelamatkan kehidupan manusia di zona rawan longsor.
Rekaman atas bencana menakutkan baru-baru ini menangkap bangunan bertingkat runtuh ke sungai seperti deretan kartu, sementara mobil, jembatan, dan toko-toko tersapu ke dalam pusarannya. Para aktivis mengatakan semua ini bisa dicegah jika pemerintah negara bagian mengindahkan seruan untuk menghentikan pembangunan dan perambahan di dasar sungai.
Centre for Science and Environment (CSE) yang bermarkas di New Delhi juga mengisyaratkan hubungan antara bencana dan pembangunan yang dilakukan di wilayah unik ini.
Mengakui pentingnya pembangkit listrik secara ekonomi, Direktur CSE Jenderal Sunita Narain mempertanyakan apakah “pemerintah pusat atau negara bagian pernah mempertimbangkan dampak kumulatif dari proyek pembangkit listrik tenaga air di atas sungai-sungai dan pegunungan.”
“Saat ini, ada sekitar 70 proyek yang dibangun atau (direncanakan akan dibangun) di Gangga, yang diharapkan dapat menghasilkan sekitar 10.000 megawatt (MW) tenaga listrik,” ujarnya kepada IPS.
Dia menyebut model ini sebagai “melimpahnya pembangunan”, dengan satu proyek segera disusul proyek lain.
Pengalihan sungai dan waduk akan mempengaruhi 80 persen dari Bhagirathi, hulu sungai kedua Gangga, dan 65 persen dari Alakananda, Narain menekankan. Selama musim kemarau, sebagian besar sungai akan benar-benar kering.
Kegiatan-kegiatan tersebut, katanya, sangat menguntungkan para pengembang, sehingga nyaris mustahil suara kelompok lingkungan kecil didengar.
“Ada lobi pembangunan yang kuat di Uttarakhand,” kata Bhanot, menambahkan bahwa banyak dana pemilu para politisi berasal dari proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air.
Banyak alternatif yang ramah lingkungan, termasuk pembangkit listrik menggunakan asap dari pembakaran jarum pinus untuk mendorong turbin, biomassa, atau tenaga hidromini yang mampu menghasilkan dua MW. Tapi, skema ini kurang menguntungkan dan tidak cocok dengan perusahaan.
Narain mengatakan bencana ini tak bisa dikaitkan semata-mata dengan perubahan iklim, tapi meningkatnya tren peristiwa cuaca yang intens dan ekstrim –khususnya musim hujan lebat yang sulit diprediksi– tak bisa disangkal.
Dengan perubahan iklim yang secara luas diakui sebagai hasil pembakaran bahan bakar fosil dan emisi karbon dioksida berlebihan ke atmosfer, jelas bahwa tragedi yang sedang berlangsung disebabkan manusia, kata Thakkar.
Luapan banjir danau ges (GLOF) yang mengalir menuruni gunung membawa bebatuan hanya tanda lain bahwa keseimbangan kekuatan alam telah terganggu –dan Uttarakhand harus membayarnya.

Regulasi diperlukan
Pariwisata bisa menjadi tulang punggung perekonomian Uttarakhand. Tapi sekarang jelas bahwa jumlah pengunjung dan peziarah terlalu banyak: menurut data pemerintah, 42,2 juta wisatawan domestik dan 227.000 wisatawan asing berbondong-bondong ke Uttarakhand pada 2012.
Jumlah itu diharapkan meningkat dua kali lipat pada 2017, dengan negara bagian itu bersiap menyambut 77,7 juta wisatawan domestik dan hampir 400.000 wisatawan asing.
Kedatangan mereka bukan hanya akan meningkatkan sampah manusia dan polusi dari alat transportasi, tapi juga pembangunan hotel tanpa henti dan pembenaran proyek-proyek pembangunan berskala besar.
Ahli seperti Thakkar bersikeras bahwa sektor ini harus diatur berdasarkan penilaian ilmiah yang tepat dari wilayah tersebut.
Ini tidak akan mudah, karena pariwisata memberikan pendapatan yang dibutuhkan negara bagian itu. Pemerintah memperkirakan setiap turis menghabiskan rerata 38 dolar per hari, sebagian besar mengalir langsung ke kocek pemerintah melalui biaya masuk ke situs-situs keagamaan.
Tapi kendati pendapatan dari “wisata religi dan budaya membantu kelangsungan hidup banyak orang, itu tak akan berkelanjutan ... (kecuali) semua kegiatan pembangunan memperhitungkan kerentanan area itu,” kata Thakkar.
Sebagai pegunungan termuda di dunia, Himalaya rentan terhadap erosi, tanah longsor, dan aktivitas seismik.
“Pembangunan tak bisa menutupi biaya lingkungan di wilayah negara ini, tapi khususnya tidak di Himalaya,” ujar Narain menekankan.*

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Blogger templates

 
Support : Creating Website | Riki Arianto | Copyright#Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ruang Menulis dan Campur Sari - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template