Sujoy Dhar
NEW DELHI (IPS) –DI pinggiran Rudraprayag, sebuah
kota di negara bagian Uttarakhand, India utara, yang candi-candinya menarik
wisatawan dan peziarah Hindu, para pengunjung sering berhenti untuk makan di
sebuah hotel terkenal yang dibangun tepat di atas Sungai Alakananda.
Sebagai salah satu dari
dua hulu sungai Gangga, sumber kehidupan yang suci bagi masyarakat India yang
mengalir dari moncong Gomukh, dari gletser terbesar Gangotri di pegunungan
Himalaya, Alakananda dipuja sebagai dewi.
Karena tarif menginap
semalam di hotel murah, wisatawan dalam dan luar negeri datang ke sini untuk menikmati
pemandangan dari balkon yang menghadap ke pegunungan dan gletser yang menyelimuti
90 persen negara bagian ini.
Seindah kedengarannya,
hotel ini tanpa disadari berperan dalam salah satu bencana alam terburuk yang
pernah terjadi di negara bagian ini. Pada 15 Juni, banjir bandang yang disebabkan
hujan deras dan mencairnya es menyapu ribuan peziarah yang tak pernah menduga dalam
apa yang para ilmuwan sebut sebagai “tsunami Himalaya”.
Menteri kepala negara
bagian mengatakan Kamis lalu bahwa jumlah korban tewas bisa melebihi 1.000 jiwa,
dengan 300 mayat ditemukan pagi ini terkubur di bawah lumpur di sisi candi
terbesar di kota Kedarnath.
Tak terhitung turis yang
terjebak selama berhari-hari dalam kondisi mengenaskan sampai Angkatan Bersenjata
India datang untuk menyelamatkan mereka satu demi satu lewat udara.
Ribuan orang masih
hilang dan banyak kota dan situs ziarah tak dapat diakses, seolah air yang
mengamuk membawa seluruh badan jalan, bersama rumah-rumah, toko, dan korban.
Karena pemerintah berupaya
merampungkan operasi penyelamatan secara tak sistematis, para ahli lingkungan menengok
ke belakang, menekankan bahwa bencana itu bukan hanya bencana alam yang aneh tapi
hasil pembangunan tak terkendali di Tanah Dewata.
Proyek
PLTA
Selama bertahun-tahun,
industri pariwisata yang berkembang pesat, dimungkinkan oleh pembangunan ribuan
wisma ilegal, telah melahirkan proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air berskala
besar di sungai itu, sementara pembangunan infrastruktur yang dirancang untuk
mengakomodasi lonjakan pengunjung terus mengurangi dan memberi tekanan
berlebihan pada zona ekologi yang rapuh ini.
Para ilmuwan juga
mengatakan pembendungan Gangga, perambahan sungai, dan kegiatan pertambangan
mendatangkan malapetaka di wilayah tersebut.
“Tak (pernah) ada
analisis dampak lingkungan atau sosial yang kredibel atas ratusan proyek
tersebut,” ujar Himanshu Thakkar, koordinator South Asia Network on Dams,
Rivers and People, kepada IPS.
Menurut Mallika
Bhanot, anggota Ganga Ahvaan, sebuah forum publik untuk menyelamatkan sungai
suci itu, sekitar 244 bendungan sedang dibangun di sepanjang saluran air,
sementara hanya tiga yang dibatalkan setelah membentang 100 km, dari mulut
glasial Gomukh ke kota Uttarkashi, yang ditetapkan sebagai zona ekologi sensitif
(ESZ) pada Desember 2012.
“Bahkan pemberitahuan pemerintah
di New Delhi ditentang pemerintah Uttarakhand,” ujar Bhanot kepada IPS, padahal ia dirancang setelah
evaluasi menyeluruh terhadap topografi, dan dengan tujuan menyelamatkan kehidupan
manusia di zona rawan longsor.
Rekaman atas bencana menakutkan
baru-baru ini menangkap bangunan bertingkat runtuh ke sungai seperti deretan kartu,
sementara mobil, jembatan, dan toko-toko tersapu ke dalam pusarannya. Para aktivis
mengatakan semua ini bisa dicegah jika pemerintah negara bagian mengindahkan seruan
untuk menghentikan pembangunan dan perambahan di dasar sungai.
Centre for Science and
Environment (CSE) yang bermarkas di New Delhi juga mengisyaratkan hubungan
antara bencana dan pembangunan yang dilakukan di wilayah unik ini.
Mengakui pentingnya
pembangkit listrik secara ekonomi, Direktur CSE Jenderal Sunita Narain mempertanyakan
apakah “pemerintah pusat atau negara bagian pernah mempertimbangkan dampak
kumulatif dari proyek pembangkit listrik tenaga air di atas sungai-sungai dan
pegunungan.”
“Saat ini, ada sekitar
70 proyek yang dibangun atau (direncanakan akan dibangun) di Gangga, yang diharapkan
dapat menghasilkan sekitar 10.000 megawatt (MW) tenaga listrik,” ujarnya kepada
IPS.
Dia menyebut model ini
sebagai “melimpahnya pembangunan”, dengan satu proyek segera disusul proyek lain.
Pengalihan sungai dan
waduk akan mempengaruhi 80 persen dari Bhagirathi, hulu sungai kedua Gangga,
dan 65 persen dari Alakananda, Narain menekankan. Selama musim kemarau, sebagian
besar sungai akan benar-benar kering.
Kegiatan-kegiatan
tersebut, katanya, sangat menguntungkan para pengembang, sehingga nyaris
mustahil suara kelompok lingkungan kecil didengar.
“Ada lobi pembangunan yang
kuat di Uttarakhand,” kata Bhanot, menambahkan bahwa banyak dana pemilu para politisi
berasal dari proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air.
Banyak alternatif yang
ramah lingkungan, termasuk pembangkit listrik menggunakan asap dari pembakaran
jarum pinus untuk mendorong turbin, biomassa, atau tenaga hidromini yang mampu
menghasilkan dua MW. Tapi, skema ini kurang menguntungkan dan tidak cocok dengan
perusahaan.
Narain mengatakan
bencana ini tak bisa dikaitkan semata-mata dengan perubahan iklim, tapi meningkatnya
tren peristiwa cuaca yang intens dan ekstrim –khususnya musim hujan lebat yang sulit
diprediksi– tak bisa disangkal.
Dengan perubahan iklim
yang secara luas diakui sebagai hasil pembakaran bahan bakar fosil dan emisi
karbon dioksida berlebihan ke atmosfer, jelas bahwa tragedi yang sedang
berlangsung disebabkan manusia, kata Thakkar.
Luapan banjir danau ges
(GLOF) yang mengalir menuruni gunung membawa bebatuan hanya tanda lain bahwa
keseimbangan kekuatan alam telah terganggu –dan Uttarakhand harus membayarnya.
Regulasi
diperlukan
Pariwisata bisa
menjadi tulang punggung perekonomian Uttarakhand. Tapi sekarang jelas bahwa jumlah
pengunjung dan peziarah terlalu banyak: menurut data pemerintah, 42,2 juta
wisatawan domestik dan 227.000 wisatawan asing berbondong-bondong ke
Uttarakhand pada 2012.
Jumlah itu diharapkan
meningkat dua kali lipat pada 2017, dengan negara bagian itu bersiap menyambut
77,7 juta wisatawan domestik dan hampir 400.000 wisatawan asing.
Kedatangan mereka
bukan hanya akan meningkatkan sampah manusia dan polusi dari alat transportasi,
tapi juga pembangunan hotel tanpa henti dan pembenaran proyek-proyek
pembangunan berskala besar.
Ahli seperti Thakkar
bersikeras bahwa sektor ini harus diatur berdasarkan penilaian ilmiah yang
tepat dari wilayah tersebut.
Ini tidak akan mudah,
karena pariwisata memberikan pendapatan yang dibutuhkan negara bagian itu.
Pemerintah memperkirakan setiap turis menghabiskan rerata 38 dolar per hari, sebagian
besar mengalir langsung ke kocek pemerintah melalui biaya masuk ke situs-situs
keagamaan.
Tapi kendati pendapatan
dari “wisata religi dan budaya membantu kelangsungan hidup banyak orang, itu tak
akan berkelanjutan ... (kecuali) semua kegiatan pembangunan memperhitungkan
kerentanan area itu,” kata Thakkar.
Sebagai pegunungan termuda
di dunia, Himalaya rentan terhadap erosi, tanah longsor, dan aktivitas seismik.
“Pembangunan tak bisa menutupi
biaya lingkungan di wilayah negara ini, tapi khususnya tidak di Himalaya,” ujar
Narain menekankan.*
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !