sumber:Raiupos.co
Oleh Riki Arianto
TAMAN KOTA belakang Pustaka Wialayah (Puswil) Soeman HS Riau biasanya terlihat ramai dengan Pedagang Kaki Lima (PKL). Bahkan sepanjang Jalan Cut Nyak Dien yang dijadikan tempat berjualan oleh PKL ini sering terjadi kemacetan. Namun pasca penertiban Kamis (31/1) lalu, aktifitas PKL di taman ini sepi.
Malam itu 1 Januari 2013, lampu jalan yang biasa menerangi daerah Kantor Gubernur Riau (Gubri) dan Puswil terlihat padam. “Lampu ini sengaja kita matikan, untuk mencegah aktifitas PKL di sini,” ujar Komandan Pleton (Danton) II Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pekanbaru, M Harahap.
Tim Yustisi—gabungan 300 personil dari berbagai satuan keamanan sedang besiaga untuk mengahadapi kalau terjadi keributan di sana. Mereka ditugaskan untuk menertibkan PKL di sana. Tim Yustisi ini membawa peralatan yang lengkap, beberapa tameng, helm baja, dan pentungan berjejer rapi di tempat mereka berkumpul. Beberapa mobil polisi terlihat mondar–mandir mengitari jalan ini.
PKL juga terlihat berkumpul di sana, jumlahnya tidak banyak, hanya puluhan saja. Mereka berkumpul di lokasi yang sama malam itu namun cukup jauh dari Tim Yustisi.
PKL menolak penertiban yang dilakukan Pemko karena menurut mereka tempat yang disediakan tidak layak untuk berjualan. Selain jauh dari keramaian, sewa tempat terbilang mahal pembeli jarang ke sana.
Eka, salah satu PKL yang ada malam itu. Biasanya pria 30 tahun ini berjualan pakaian di daerah ini. Eka termasuk pedagang yang menolak keras penertiban PKL yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru. Malam itu ia tetap membawa dagangannya, namun Eka tidak menjualnya. Hal ini ia lakukan untuk menghindari bentrok dengan pihak keamanan yang berjaga di sana, begitu juga dengan rekan-rekan Eka lainnya. Kata-kata bernada amarah terhadap Walikota Pekanbaru Firdaus MT terus terlontar dari mulut mereka.
“Firdaus itu anjing! Dulu sebelum dipilih ngemis-ngemis ke kita, sekarang malah kami mau ditendang,” ujar Eka. Beberapa dari meraka juga mengeluarkan cacian yang hampir sama saat saya mewawancarai mereka. Para PKL ini mengaku pernah melakukan kontrak politik dengan Firdaus MT, kala itu masa kempanye pemilihan Walikota Pekanbaru periode 2011-2016. Firdaus menanda tangani kontrak politik tersebut dengan pihak PKL dengan berjanji tidak ada penggusuran dan akan membina PKL, ternyata janji ini dilanggar. Sebelum bubar Eka sempat mangatakan bahwa mereka akan mengadakan aksi pada Senin (4/2) di depan Kantor Walikota Pekanbaru, sekitar pukul 20.00 WIB para PKL ini meninggalkan tempat mereka.
Satpol PP dan beberapa satuan pengamanan yang tergabung dalam Tim Yustisi penertiban PKL masih berjaga-jaga disana. Ketika saya menghampiri mereka dan mewawancarai M Harahap (Danton II Pol PP), seorang pria berseragam tentara mendekat menanyakan apa yang terjadi, M Harahap menerangkan ada wawancara kepada pria tersebut dengan sikap hormat.
M Harahap bercerita banyak tentang penertiban PKL yang dicanangkan Pemko Pekanbaru.
“Tidak ada yang namanya penggusuran, itu salah penafsiran, yang ada itu penertiban,” terang M Harahap.
Tempat berdagang yang baru telah disiapkan oleh Pemko. Seluruh PKL yang berdagang di Jalan Cut Nyak Dien akan dipindahkan ke Pusat Jajanan Selera Rakyat (Pujasera) Arifin Ahmad, Pasar Kodim, dan Giant Panam sehingga lebih tertib.
Pemko Pekanbaru melakukan penertiban terhadap PKL berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) nomor 5 tahun 2002 pasal 19 ayat 1 tentang ketertiban umum. PKL dinilai telah mengganggu ketertiban umum dengan berjualan di trotoar pejalan kaki dan banyak juga yang berjualan di pinggir jalan hingga membuat macet. Mulanya PKL yang tak mau ditertibkan berjumlah 300 orang, sekarang hanya tinggal 60 orang.
“Sebagian sudah ada yang dipindahkan ke halaman Pusat Koperasi Angkatan Udara (Puskopau), di Jalan Pepaya,” kata M Harahap. Puskopau merupakan lokasi pasar malam pindahan dari pasar di Jalan Cut Nyak Dien tersebut. Lokasinya tidak jauh, dari Cut Nyak Dien hanya menempuh gang yang panjangnya sekitar 50 meter, pasar malam Puskopau dapat kita lihat.
Meskipun sangat dekat, situasinya jauh berbeda. Di pasar malam Puskopau terlihat ramai PKL yang berjualan. Pembeli juga ramai. Ada dua odong-odong yang selalu ramai dinaiki anak-anak. Pasangan muda-mudi juga ramai, mereka asyik duduk sambil makan kacang rebus dan minuman yang dijual di pasar itu. Ada juga yang asyik melihat pakaian.
Anton seorang PKL yang berjualan kaus kaki di pasar tersebut. Dia baru berjualan di situ sejak sebulan lalu, sebelumnya dia berjualan di Giant. Anton pindah karena di Giant sepi.
Di pasar itu, seorang pelukis tua terlihat sedang melukis gambar seorang wanita, dia adalah Indra Mayeldi. Perawakannya tegap, rambutnya dipenuhi uban dan gondrong. Dia adalah ketua Ikatan Pedagang Kreatif Riau (IPKR) yang mengelola pedagang di Pasar Malam Puskopau itu.
IPKR organisasi pedagang yang tidak menolak dan bersedia dibina oleh Pemko Pekanbaru. Awalnya mereka juga PKL yang berjualan di Cut Nyak Dien. IPKR terbentuk setelah beberapa orang pedagang menemui Walikota untuk mempertanyakan nasib mereka. Pertemuan itu dilakukan setelah seminggu dikeluarkannya perintah untuk melakukan penertiban PKL di Cut Nyak Dien sebelum Pekan Olah Raga Nasional XVIIIl (PON) lalu. Dalam pertemuan itu mereka mendapat kesepakatan untuk diizinkan berdagang di Jalan Pepaya. Namun, Indra Mayeldi beserta PKL lainnya mengusulkan untuk berjualan di Puskopau saja, karena mereka sadar jika berdagang di pinggir jalan masih melanggar Perda. Usul itu diterima.
Setelah 1,5 bulan berjualan di lokasi ini, barulah orang mulai ramai berkunjung dan belanja di Pasar itu. “Sekarang ramai berkat promosi yang kami lakukan, Pemko juga ikut membantu dengan mempromosikannya lewat Riau TV,” ungkap Indra. Kini, pasar telah berjalan sekitar lima bulan. Bahkan sekarang pedagang yang tidak setuju dipindahkan pun sudah mulai berdagang di situ.


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !