Fabiana Frayssinet
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
RIO DE JANEIRO (IPS) – SALAH satu korban dari renovasi stadion sepakbola Maracaná di Brazil untuk Piala Dunia adalah Museum Indian
kuno, tempat orang-orang dari beragam kelompok adat berusaha mempertahankan
kebudayaan mereka tetap hidup di jantung kota Rio de Janeiro.
“Ini seakan mereka membunuh sebagian dari hidup kami, seolah-olah
kami kehilangan sebagian diri kami, karena di tempat ini, leluhur kami
mengekalkan ingatan mereka, perjuangan mereka,” ujar Garapira Pataxó, anggota kelompok adat Pataxó, dalam sebuah wawancara kepada IPS
setelah pemerintah negara bagian Rio
de Janeiro
menetapkan keputusan untuk membongkar puing bangunan yang berdiri di seberang
stadion.
Otoritas menyatakan bekas Museu do Indiao yang arkaik ini mesti lenyap demi memudahkan akses ke
Estádio Jornalista Mário Filho, atau dikenal dengan Stadion Maracaná, yang untuk kali kedua dalam sejarah bakal jadi tuan rumah
final Piala Dunia.
Bangunan yang akan dirubuhkan ini dibangun 147 tahun
lalu. Pada 1953, ia menjadi kantor pusat pertama Museu do Indiao, dibuat antropolog Darcy Ribeiro. Namun pada 1978 museum dipindahkan ke sebuah rumah
tua milik bangsawan di sekitar Botafogo di sisi selatan kota.
Bangunan tua itu juga menjadi tempat Dinas
Perlindungan Indian saat kali pertama dibentuk –sebuah badan yang kemudian
digantikan FUNAI, Yayasan Indian Nasional.
Sejak museum pindah, bangunan awal menjadi rusak dan
terabaikan. Pekarangan di sekitarnya diduduki sekitar dua lusin orang dari
kelompok adat yang berbeda pada 2006, sebagai “simbol perlawanan budaya,” ujar
pemimpin adat Doitiró Tukano dari suku Tukano dari hutan
Amazon.
“Kami di sini untuk menunjukkan perbedaan kebudayaan
kami, yang bukan tiruan, tapi asli milik kami sendiri. Saat ini, menurut badan statistik
Brazil, ada 305 kelompok adat dengan 186 bahasa di Brazil, dan itulah yang
ingin kami tunjukkan. Inilah perlawanan kami,” ujarnya.
Ada sekitar 600.000 anggota masyarakat adat di negara
dengan jumlah penduduk 192 juta jiwa ini.
Menurut laporan yang belum dikonfirmasikan, bangunan
tua itu akan diubah jadi pusat olahraga khusus dan lahan parkir di seberang stadion
yang jadi tuan rumah final Piala Dunia 1950, di mana tim nasional Uruguay
secara mengejutkan memenangi laga melawan tim tuan rumah.
Sepakbola jadi
alasan
Sergio CabralgGubernur negara bagian Rio
de Janeiro, menyatakan
pembongkaran Museu do Indiao tua diminta oleh FIFA. Tapi, asosiasi sepakbola
dunia itu membantah.
Renato Cosentino, jurubicara untuk Komite Rakyat Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016,
berkata pernyataan Cabral hanyalah dalih.
“Olahraga sering dipakai sebagai alasan untuk mengusir
orang-orang dari dearah yang nilai propertinya tinggi,” katanya pada IPS, merujuk penggusuran paksa warga
dari kawasan miskin di Rio de Janeiro dan 11 kota Brazil lainnya, tempat
pertandingan Piala Dunia akan dihelat.
Sekitar 170.000 orang telah diusir di seluruh negeri,
termasuk 30.000 di Rio de Janeiro, yang juga bakal menggelar Olimpiade 2016.
Dua dari kampung kumuh atau kota gubuk, di mana
penduduknya telah diusir, adalah untuk Stadion Maracaná, yang menjadi “simbol dari proses pelanggaran HAM yang
kami alami di Brazil,” kata wakil dari Komite Rakyat, yang menyatukan penduduk
lokal yang terkena dampak pergelaran olahraga akbar itu.
“Sangat sedih melihat impian kami bakal berakhir,”
tutur Tukano.
“Ini adalah tempat berpijak yang ingin kami tinggalkan
untuk generasi berikutnya,” ujarnya sembari menjelaskan bahwa dia tak “menentang
warga Brazil yang cinta sepakbola… Tapi Piala Dunia tak memberikan apa-apa kepada
kami. Tentu ia mendatangkan keuntungan bagi perusahaan besar yang bertindak sebagai
sponsor.”
Penduduk asli yang tinggal di reruntuhan dan lahan museum
kuno bersiap melawan pembongkaran, sementara kantor ombudsman siap melawan
keputusan itu di pengadilan dengan alasan bangunan itu memiliki nilai sejarah.
Tempat suci
Para penghuni liar mendirikan rumah dengan bahan-bahan
sederhana seperti tanah liat, sebagai upaya membangun sebuah desa adat yang
khas, yang mereka sebut Kampung Maracaná. Di sini mereka menjalankan
ritual adat dan mencoba menjaga tradisi mereka tetap hidup di tengah kepadatan
kota yang mengepung mereka.
Di antara tangga berkarat dan belitan akar pepohonan di
reruntuhan tembok, mereka menghelat kegiatan budaya seperti tarian dan upacara
tradisional, pameran foto, bahkan pertunjukan fesyen yang memamerkan pakaian
adat.
Sebelum berita pembongkaran ditetapkan, orang-orang di
Kampung Maracaná sedang mempersiapkan upacara
tradisional menyambut masa akil balik untuk anak perempuan, yang akan dihadiri remaja-remaja
dari beberapa desa di seluruh negeri.
“Anda bisa lihat bagaimana masyarakat adat suka makan
singkong,” ujar Afonso, bercanda.
Chamakiri
dari masyarakat adat Apuriná, salah satu suku Amazon,
bilang dia dan keluarga barunya makan siang dengan ikan bakar yang disajikan dengan
tepung singkong.
Chamakiri
punya cerita menarik. Dia datang ke Rio de Janeiro dengan impian menjadi
seorang aktor. “Ibu saya datang sekali ke kota dan terkesan oleh ‘sebuah kotak
dengan orang-orang di dalamnya yang berbicara’,” tuturnya. Ini adalah kali
pertama dia meninggalkan kampungnya di Amazon, dan dia belum pernah melihat
televisi.
Impiannya terwujud. Dia muncul dalam beberapa film,
yang terakhir Vermelho Brasil, produksi gabungan antara Brazil, Kanada, dan Prancis.
Di balik tembok yang dibangun perusahaan untuk merenovasi
Stadion Maracaná, para pekerja mencuri lihat
upacara yang diadakan untuk menyambut IPS.
Penduduk asli yang tinggal di lahan museum kuno berdoa kepada para leluhur agar
pemerintah “mendapat pencerahan” dan menghormati “tempat suci” mereka.
“Kami tak melawan mereka,” ujar Chamakiri tentang para pekerja di stadion. “Mereka juga
kebanyakan suku Indian seperti kami. Yang lainnya berkulit hitam, mereka
seperti kami.”
Chamakiri
suka bercerita beberapa orang ingat bahasa ibu yang diucapkan kali pertama
untuk menyebut nama sungai setempat, kemudian tetangga, dan kemudian stadion.
Maracaná
adalah spesies burung lokal yang masih “datang untuk makan buah di pohon itu,”
ujarnya, mnunjuk salah satu dari banyak spesies pohon yang masih tumbuh di
tengah kota berpenduduk sekitar 13 juta jiwa ini.
Burung itu hidup lebih lama dari peradaban, sementara
“masyarakat adat Maracaná kuno, yang menguasai wilayah
ini, telah punah,” jelas Chamakiri. Itulah mengapa sangat
penting menyelamatkan pusat kebudayaan ini, “yang mewakili catatan dari semua budaya
leluhur yang berkembang di sini –dan dihancurkan di sini.”
“Kami ingin ini menjadi tempat suci masyarakat adat,”
tambahnya.*
Edited by Budi Setiyono

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !