Headlines News :
Home » » Demi Piala Dunia, Simbol Budaya Adat Dibongkar

Demi Piala Dunia, Simbol Budaya Adat Dibongkar

Written By riki on Tuesday, October 30, 2012 | 10/30/2012 09:56:00 PM

 Fabiana Frayssinet


RIO DE JANEIRO (IPS) – SALAH satu korban dari renovasi stadion sepakbola Maracaná di Brazil untuk Piala Dunia adalah Museum Indian kuno, tempat orang-orang dari beragam kelompok adat berusaha mempertahankan kebudayaan mereka tetap hidup di jantung kota Rio de Janeiro.
“Ini seakan mereka membunuh sebagian dari hidup kami, seolah-olah kami kehilangan sebagian diri kami, karena di tempat ini, leluhur kami mengekalkan ingatan mereka, perjuangan mereka,” ujar Garapira Pataxó, anggota kelompok adat Pataxó, dalam sebuah wawancara kepada IPS setelah pemerintah negara bagian Rio de Janeiro menetapkan keputusan untuk membongkar puing bangunan yang berdiri di seberang stadion.
Otoritas menyatakan bekas Museu do Indiao yang arkaik ini mesti lenyap demi memudahkan akses ke Estádio Jornalista Mário Filho, atau dikenal dengan Stadion Maracaná, yang untuk kali kedua dalam sejarah bakal jadi tuan rumah final Piala Dunia.
Bangunan yang akan dirubuhkan ini dibangun 147 tahun lalu. Pada 1953, ia menjadi kantor pusat pertama Museu do Indiao, dibuat antropolog Darcy Ribeiro. Namun pada 1978 museum dipindahkan ke sebuah rumah tua milik bangsawan di sekitar Botafogo di sisi selatan kota.
Bangunan tua itu juga menjadi tempat Dinas Perlindungan Indian saat kali pertama dibentuk –sebuah badan yang kemudian digantikan FUNAI, Yayasan Indian Nasional.
Sejak museum pindah, bangunan awal menjadi rusak dan terabaikan. Pekarangan di sekitarnya diduduki sekitar dua lusin orang dari kelompok adat yang berbeda pada 2006, sebagai “simbol perlawanan budaya,” ujar pemimpin adat Doitiró Tukano dari suku Tukano dari hutan Amazon.
“Kami di sini untuk menunjukkan perbedaan kebudayaan kami, yang bukan tiruan, tapi asli milik kami sendiri. Saat ini, menurut badan statistik Brazil, ada 305 kelompok adat dengan 186 bahasa di Brazil, dan itulah yang ingin kami tunjukkan. Inilah perlawanan kami,” ujarnya.
Ada sekitar 600.000 anggota masyarakat adat di negara dengan jumlah penduduk 192 juta jiwa ini.
Menurut laporan yang belum dikonfirmasikan, bangunan tua itu akan diubah jadi pusat olahraga khusus dan lahan parkir di seberang stadion yang jadi tuan rumah final Piala Dunia 1950, di mana tim nasional Uruguay secara mengejutkan memenangi laga melawan tim tuan rumah.

Sepakbola jadi alasan
Sergio CabralgGubernur negara bagian Rio de Janeiro, menyatakan pembongkaran Museu do Indiao tua diminta oleh FIFA. Tapi, asosiasi sepakbola dunia itu membantah.
Renato Cosentino, jurubicara untuk Komite Rakyat Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016, berkata pernyataan Cabral hanyalah dalih.
“Olahraga sering dipakai sebagai alasan untuk mengusir orang-orang dari dearah yang nilai propertinya tinggi,” katanya pada IPS, merujuk penggusuran paksa warga dari kawasan miskin di Rio de Janeiro dan 11 kota Brazil lainnya, tempat pertandingan Piala Dunia akan dihelat.
Sekitar 170.000 orang telah diusir di seluruh negeri, termasuk 30.000 di Rio de Janeiro, yang juga bakal menggelar Olimpiade 2016.
Dua dari kampung kumuh atau kota gubuk, di mana penduduknya telah diusir, adalah untuk Stadion Maracaná, yang menjadi “simbol dari proses pelanggaran HAM yang kami alami di Brazil,” kata wakil dari Komite Rakyat, yang menyatukan penduduk lokal yang terkena dampak pergelaran olahraga akbar itu.
“Sangat sedih melihat impian kami bakal berakhir,” tutur Tukano.
“Ini adalah tempat berpijak yang ingin kami tinggalkan untuk generasi berikutnya,” ujarnya sembari menjelaskan bahwa dia tak “menentang warga Brazil yang cinta sepakbola… Tapi Piala Dunia tak memberikan apa-apa kepada kami. Tentu ia mendatangkan keuntungan bagi perusahaan besar yang bertindak sebagai sponsor.”
Penduduk asli yang tinggal di reruntuhan dan lahan museum kuno bersiap melawan pembongkaran, sementara kantor ombudsman siap melawan keputusan itu di pengadilan dengan alasan bangunan itu memiliki nilai sejarah.

Tempat suci
Para penghuni liar mendirikan rumah dengan bahan-bahan sederhana seperti tanah liat, sebagai upaya membangun sebuah desa adat yang khas, yang mereka sebut Kampung Maracaná. Di sini mereka menjalankan ritual adat dan mencoba menjaga tradisi mereka tetap hidup di tengah kepadatan kota yang mengepung mereka.
Di antara tangga berkarat dan belitan akar pepohonan di reruntuhan tembok, mereka menghelat kegiatan budaya seperti tarian dan upacara tradisional, pameran foto, bahkan pertunjukan fesyen yang memamerkan pakaian adat.
Sebelum berita pembongkaran ditetapkan, orang-orang di Kampung Maracaná sedang mempersiapkan upacara tradisional menyambut masa akil balik untuk anak perempuan, yang akan dihadiri remaja-remaja dari beberapa desa di seluruh negeri.
“Anda bisa lihat bagaimana masyarakat adat suka makan singkong,” ujar Afonso, bercanda.
Chamakiri dari masyarakat adat Apuriná, salah satu suku Amazon, bilang dia dan keluarga barunya makan siang dengan ikan bakar yang disajikan dengan tepung singkong.
Chamakiri punya cerita menarik. Dia datang ke Rio de Janeiro dengan impian menjadi seorang aktor. “Ibu saya datang sekali ke kota dan terkesan oleh ‘sebuah kotak dengan orang-orang di dalamnya yang berbicara’,” tuturnya. Ini adalah kali pertama dia meninggalkan kampungnya di Amazon, dan dia belum pernah melihat televisi.
Impiannya terwujud. Dia muncul dalam beberapa film, yang terakhir Vermelho Brasil, produksi gabungan antara Brazil, Kanada, dan Prancis.
Di balik tembok yang dibangun perusahaan untuk merenovasi Stadion Maracaná, para pekerja mencuri lihat upacara yang diadakan untuk menyambut IPS. Penduduk asli yang tinggal di lahan museum kuno berdoa kepada para leluhur agar pemerintah “mendapat pencerahan” dan menghormati “tempat suci” mereka.
“Kami tak melawan mereka,” ujar Chamakiri tentang para pekerja di stadion. “Mereka juga kebanyakan suku Indian seperti kami. Yang lainnya berkulit hitam, mereka seperti kami.”
Chamakiri suka bercerita beberapa orang ingat bahasa ibu yang diucapkan kali pertama untuk menyebut nama sungai setempat, kemudian tetangga, dan kemudian stadion.
Maracaná adalah spesies burung lokal yang masih “datang untuk makan buah di pohon itu,” ujarnya, mnunjuk salah satu dari banyak spesies pohon yang masih tumbuh di tengah kota berpenduduk sekitar 13 juta jiwa ini.
Burung itu hidup lebih lama dari peradaban, sementara “masyarakat adat Maracaná kuno, yang menguasai wilayah ini, telah punah,” jelas Chamakiri. Itulah mengapa sangat penting menyelamatkan pusat kebudayaan ini, “yang mewakili catatan dari semua budaya leluhur yang berkembang di sini –dan dihancurkan di sini.”
“Kami ingin ini menjadi tempat suci masyarakat adat,” tambahnya.*

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Blogger templates

 
Support : Creating Website | Riki Arianto | Copyright#Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ruang Menulis dan Campur Sari - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template