Tim koresponden Al Jazeera
DOHA (IPS) –
BANK KABUL di Afghanistan kembali jadi pemberitaan: dua eksekutif puncaknya
dihukum lima tahun penjara karena penipuan. Namun menjadi pusat perhatian, baik
atau buruk, sudah jadi bagian dari saga bank ini sejak didirikan pada 2004.
Dicitrakan sebagai “bank untuk semua orang”, iklan
bank ini tampil di saluran televisi internasional untuk memamerkan sebuah gaya
hidup yang sedikit warga Afghanistan bisa menolaknya. Iklan itu membangkitkan
kepercayaan dan kekaguman karena terus-menerus menampilkan gambar rumah,
mobil-mobil, dan bahkan batangan emas sebagai hadiah.
Mendadak, warga Afghanistan yang sebelumnya tak
percaya pada bank, mulai menyetorkan uang yang mereka simpan di rumah selama puluhan
tahun dan membuka rekening. Janji-janji muluk dengan cepat menarik lebih dari
sejuta penabung.
Namun pada musim panas 2010, kegaduhan akibat
ketidakberesan di bank swasta pertama di Afghanistan itu menjadi terlalu santer
untuk diabaikan.
Berutang dan malu
Pada 29 Agustus 2010, Abdul Qadir Fitrat, kepala Bank Sentral Afghanistan kala itu, mengundang
rapat para pemegang saham Bank Kabul guna membahas apa yang membuat institusi
yang mulanya dipandang sukses oleh warga Afghanistan dan warga asing menuju ke
ambang kehancuran.
Sejak itu bank tersebut digantikan oleh Bank Kabul
Baru, di mana pemerintah menyuntikkan dana segar lebih dari 800 juta dolar.
Tapi kejatuhan akibat kolapsnya bank pertama itu masih terasa.
Hampir tiga tahun kemudian, serangkaian penyelidikan
mengungkapkan bagaimana pinjaman tanpa pembukuan, pengeluaran yang boros, dan
114 stempel karet yang dipakai untuk perusahaan gadungan berkontribusi pada
penggelapan lebih dari 900 juta dolar dari Bank Kabul.
Citra “bank untuk semua orang” dengan lekas berubah
menjadi salah satu dari “kapitalisme kroni” yang membentuk “skema Ponzi”, dan
mempengaruhi hampir semua orang di Afghanistan, negara Asia Tengah itu. Skema
Ponzi sendiri suatu istilah yang menerangkan operasi investasi palsu, yang
menjanjikan keuntungan, tapi dana investasi itu kemudian dibawa kabur. Nama
Ponzi merujuk Charles Ponzi yang membuat sistem ini pada awal abad ke-20.
Skandal itu menyebabkan Jawed Rassool, manajer operasi di sebuah perusahaan konstruksi,
bangkrut dan berutang. Pria berusia 27 tahun itu mengatakan liputan media soal
korupsi itu membuat majikannya tak bisa mengakses rekeningnya. Akibatnya, “Saya
belum digaji selama empat bulan,” katanya kepada Al Jazeera.
“Saya bukan orang yang sangat kaya. Tanpa uang, saya
tak bisa memberi makan keluarga saya selama sebulan, apalagi empat bulan … Saya
meminjam 7.000 Afghani (136 dolar) untuk membayar listrik, kayu bakar, dan
pengeluaran lainnya.”
Sementara CEO Bank Kabul dilaporkan bersenang-senang
belanja Louis Vuitton dan Versace dengan uang dari bank, Rassool merana.
Sebuah laporan yang diterbitkan Independent Joint Anti-corruption Monitoring and
Evaluation Committee (MEC) pada November 2012, menemukan bukti bahwa 92 persen dari pinjaman
bank, atau 861 juta dolar, diberikan hanya untuk 19 individu dan perusahaan.
Bank ambruk
Seema Ghani,
direktur eksekutif MEC, berkata seiring hilangnya kepercayaan terhadap industri
perbankan, skandal Bank Kabul membuat banyak orang hidup tanpa layanan
mendasar.
“Bank Kabul adalah institusi terpercaya. Jutaan rakyat
Afghan bergantung padanya untuk menerima gaji dan menyimpan tabungan mereka …
Fakta bahwa pemerintah mengucurkan dana segar 825 juta dolar dengan gamblang
menjelaskan korban penipuan menimpa semua warga Afghanistan,” ujar Ghani.
Pencurian canggih
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, para peneliti, pejabat bank, dan jurnalis mengatakan
kombinasi rendahnya kapasitas, kurangnya ketaatan, dan pengaruh politik
memungkinkan Bank Kabul melakukan kegiatan penipuan selama lebih dari lima
tahun.
Sebaliknya, Bank Kabul juga muncul pada saat tepat:
masuknya bantuan internasional, luasnya layanan publik dan bisnis kewirausahaan
baru sesudah keruntuhan Taliban –semuanya meningkatkan kebutuhan akan layanan
perbankan.
Tumbuhnya permintaan terhadap jasa keuangan “secara
drastis melampaui kapasitas untuk mengatur dan mengawasi industri perbankan
secara efektif, menyebabkan kerentanan yang (kemudian) dimanfaatkan oleh para
pelaku penipuan Bank Kabul,” ujar Ghani.
“Skala dan tingkat kecanggihan dari kejahatan di Bank
Kabul sungguh mencengangkan,” kata Martine
van Bijlert,
salah satu direktur Afghanistan
Analyst Network.
Kecanggihan itu mencakup plot inovatif untuk
menyelundupkan 861 juta dolar ke bank di 28 negara. Laporan MEC tahun 2012
menyebutkan 10 pilot Pamir Airways –di mana Bank Kabul punya
saham– mendapat upah tahunan lebih dari 300.000 dolar untuk mengangkut uang
mellaui wadah-wadah makanan milik maskapai penerbangan itu. Biaya-biaya ini,
dari Maret 2008 hingga November 2010, dikategorikan sebagai “pilot pengantar
uang”.
Sebanyak 66,2 juta dolar dipakai untuk membeli 2250
mobil dan sepedamotor, deposito palsu, dan pembayaran kepada para karyawan,
baik yang tak memenuhi syarat untuk posisinya maupun yang tak pernah bekerja di
bank tersebut.
Dan sebuah laporan tahun 2009 oleh agen mata-mata
Afghanistan menunjukkan bahwa dana Bank Kabul dipakai membangun sebuah
portofolio properti di Dubai yang nilainya ditaksir mencapai 151 juta dolar.
Rincian ini menggambarkan apa yang van Bijlert sebut “sekelompok orang yang menganggap hal itu
sepenuhnya normal bahwa koneksi dan kekayaan mereka akan membuat mereka
mendapatkan pinjaman (tanpa bunga) atau hadiah.” Di antara yang diduga
mendapatkan pinjaman adalah saudara-saudara Presiden Afghanistan Hamid Karzai dan Wakil Presiden Pertama Marshal Fahim.
Melindungi diri
Vonis penjara Selasa lalu untuk Sher Khan Farnoud, pendiri-cum-pimpinan
bank, dan Khalilullah Ferozi, kepala eksekutif bank, hanya
berpengaruh kecil untuk memulihkan kepercayaan atas apa yang dipandang
masyarakat sebagai sistem korup.
Shamsul Rahman Shams, ketua pengadilan khusus yang menyelidiki kasus bank itu, berkata
saudara-saudara Karzai dan Fahim masing-masing masih berutang sembilan juta dan
tiga juta dolar.
Mahmoud Karzai, pemegang saham terbesar ketiga, dan Hassin Fahim resmi didakwa melakukan kesalahan.
“Ini tak sesederhana bahwa presiden dan wakil presiden
melindungi saudara-saudara mereka. Ini adalah sistem yang melindungi dirinya
sendiri,” ujar van Bijlert.
Bukan mereka saja yang diduga terlibat. Bank Kabul
dilaporkan memberi sumbangan kepada 30 sampai 40 anggota parlemen. “Banyak
orang yang entah bagaimana terlibat,” kata van Bijlert.
Respon atas skandal ini terhambat oleh penyelidikan
yang lambat atau tak memadai, dan keengganan untuk menelusuri jalur uang yang
diambil dari negara ini dan mengadili mereka yang bertanggung jawab.
Hal itu, ujar van Bijlert,
menggambarkan bagaimana seluruh proses telah menjadi “sebuah langkah
pengurungan,” untuk membatasi kesalahan ditimpakan kepada kelompok yang dipilih
dengan cermat.
Ini menegaskan persepsi di kalangan masyarakat bahwa
para pelaku dan penerima keuntungan dari penipuan Bank Kabul belum diselidiki
secara layak dan keputusan mengajukan dakwaan tak dibikin transparan –sebuah
pandangan yang juga dimiliki MEC.
Dengan dana talangan bank, yang dibiayai lembaga donor
internasional, sebesar hampir enam persen dari produk domestik bruto (PDB)
Afghanistan, Dawood Azami, seorang Pemimpin Muda Dunia
dari Afghanistan di Forum Ekonomi Dunia, berkata “Krisis Bank Kabul harus jadi
kejutan cukup ampuh bagi struktur pemerintahan secara menyeluruh di Afghanistan
guna bangkit dan merespon tantangan dengan tepat waktu.”
Namun Noorullah
Delawari,
gubernur Bank Sentral Afghanistan, berkata Bank Kabul bukanlah kasus yang sama
sekali unik. “Seluruh dunia menghadapi masalah perbankan yang dahsyat dan
masing-masing negara mengalami kesulitan untuk mengatasinya.”
Kendati dia setuju dengan temuan audit yang dikerjakan
perusahaan investigasi Kroll bahwa Bank Kabul menjalankan “skema Ponzi yang
disembunyikan dengan rapi”, Delawari mengatakan Bank Sentral sedang bekerja
dengan pengawasan kurator guna mendapatkan kembali dana yang hilang sebanyak
mungkin.
Dalam sebuah wawancara dengan Al
Jazeera, Delawari mengatakan, dalam “beberapa pekan ke depan” jumlah
total dana yang diselamatkan kurator mencapai 225 juta dolar. Dia menyebutnya
sebagai kemajuan besar berkat pendahulunya, Abdul Qadir Fitrat, yang kabur ke Amerika Serikat pada Juni 2010, karena
penyelidikan itu membahayakan hidupnya.
“Hanya 20 juta dolar yang diselamatkan saat saya
bergabung” pada November 2011, kata Delawari.
Namun, pukulan atas skandal itu terus bergema di
Afghanistan dan luar negeri. “Kendati masyarakat dan investor mendapatkan uang
mereka kembali setelah diselematkan oleh pihak berwenang, banyak orang berpikir
dua kali sebelum menyimpan uang di bank,” ujar Azami.
Bagi Ahmad
Barak, korupsi
dan kesalahan penanganan dari penyelidikan berikutnya terhadap Bank Kabul
menunjukkan kenyataan yang tak berubah dalam kehidupan Afghanistan modern.
“Inilah Afghanistan. Anda bodoh kalau Anda tak mencuri
uang.”*
*Diterbitkan seizin Al Jazeera
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !