Headlines News :
Home » » Bank Kabul Lalaikan Kepercayaan

Bank Kabul Lalaikan Kepercayaan

Written By riki on Friday, March 8, 2013 | 3/08/2013 11:06:00 PM


Tim koresponden Al Jazeera





DOHA (IPS) – BANK KABUL di Afghanistan kembali jadi pemberitaan: dua eksekutif puncaknya dihukum lima tahun penjara karena penipuan. Namun menjadi pusat perhatian, baik atau buruk, sudah jadi bagian dari saga bank ini sejak didirikan pada 2004.

Dicitrakan sebagai “bank untuk semua orang”, iklan bank ini tampil di saluran televisi internasional untuk memamerkan sebuah gaya hidup yang sedikit warga Afghanistan bisa menolaknya. Iklan itu membangkitkan kepercayaan dan kekaguman karena terus-menerus menampilkan gambar rumah, mobil-mobil, dan bahkan batangan emas sebagai hadiah.
Mendadak, warga Afghanistan yang sebelumnya tak percaya pada bank, mulai menyetorkan uang yang mereka simpan di rumah selama puluhan tahun dan membuka rekening. Janji-janji muluk dengan cepat menarik lebih dari sejuta penabung.
Namun pada musim panas 2010, kegaduhan akibat ketidakberesan di bank swasta pertama di Afghanistan itu menjadi terlalu santer untuk diabaikan.

Berutang dan malu
Pada 29 Agustus 2010, Abdul Qadir Fitrat, kepala Bank Sentral Afghanistan kala itu, mengundang rapat para pemegang saham Bank Kabul guna membahas apa yang membuat institusi yang mulanya dipandang sukses oleh warga Afghanistan dan warga asing menuju ke ambang kehancuran.
Sejak itu bank tersebut digantikan oleh Bank Kabul Baru, di mana pemerintah menyuntikkan dana segar lebih dari 800 juta dolar. Tapi kejatuhan akibat kolapsnya bank pertama itu masih terasa.
Hampir tiga tahun kemudian, serangkaian penyelidikan mengungkapkan bagaimana pinjaman tanpa pembukuan, pengeluaran yang boros, dan 114 stempel karet yang dipakai untuk perusahaan gadungan berkontribusi pada penggelapan lebih dari 900 juta dolar dari Bank Kabul.
Citra “bank untuk semua orang” dengan lekas berubah menjadi salah satu dari “kapitalisme kroni” yang membentuk “skema Ponzi”, dan mempengaruhi hampir semua orang di Afghanistan, negara Asia Tengah itu. Skema Ponzi sendiri suatu istilah yang menerangkan operasi investasi palsu, yang menjanjikan keuntungan, tapi dana investasi itu kemudian dibawa kabur. Nama Ponzi merujuk Charles Ponzi yang membuat sistem ini pada awal abad ke-20.
Skandal itu menyebabkan Jawed Rassool, manajer operasi di sebuah perusahaan konstruksi, bangkrut dan berutang. Pria berusia 27 tahun itu mengatakan liputan media soal korupsi itu membuat majikannya tak bisa mengakses rekeningnya. Akibatnya, “Saya belum digaji selama empat bulan,” katanya kepada Al Jazeera.
“Saya bukan orang yang sangat kaya. Tanpa uang, saya tak bisa memberi makan keluarga saya selama sebulan, apalagi empat bulan … Saya meminjam 7.000 Afghani (136 dolar) untuk membayar listrik, kayu bakar, dan pengeluaran lainnya.”
Sementara CEO Bank Kabul dilaporkan bersenang-senang belanja Louis Vuitton dan Versace dengan uang dari bank, Rassool merana.
Sebuah laporan yang diterbitkan Independent Joint Anti-corruption Monitoring and Evaluation Committee (MEC) pada November 2012, menemukan bukti bahwa 92 persen dari pinjaman bank, atau 861 juta dolar, diberikan hanya untuk 19 individu dan perusahaan.

Bank ambruk
Seema Ghani, direktur eksekutif MEC, berkata seiring hilangnya kepercayaan terhadap industri perbankan, skandal Bank Kabul membuat banyak orang hidup tanpa layanan mendasar.
“Bank Kabul adalah institusi terpercaya. Jutaan rakyat Afghan bergantung padanya untuk menerima gaji dan menyimpan tabungan mereka … Fakta bahwa pemerintah mengucurkan dana segar 825 juta dolar dengan gamblang menjelaskan korban penipuan menimpa semua warga Afghanistan,” ujar Ghani.

Pencurian canggih
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, para peneliti, pejabat bank, dan jurnalis mengatakan kombinasi rendahnya kapasitas, kurangnya ketaatan, dan pengaruh politik memungkinkan Bank Kabul melakukan kegiatan penipuan selama lebih dari lima tahun.
Sebaliknya, Bank Kabul juga muncul pada saat tepat: masuknya bantuan internasional, luasnya layanan publik dan bisnis kewirausahaan baru sesudah keruntuhan Taliban –semuanya meningkatkan kebutuhan akan layanan perbankan.
Tumbuhnya permintaan terhadap jasa keuangan “secara drastis melampaui kapasitas untuk mengatur dan mengawasi industri perbankan secara efektif, menyebabkan kerentanan yang (kemudian) dimanfaatkan oleh para pelaku penipuan Bank Kabul,” ujar Ghani.
“Skala dan tingkat kecanggihan dari kejahatan di Bank Kabul sungguh mencengangkan,” kata Martine van Bijlert, salah satu direktur Afghanistan Analyst Network.
Kecanggihan itu mencakup plot inovatif untuk menyelundupkan 861 juta dolar ke bank di 28 negara. Laporan MEC tahun 2012 menyebutkan 10 pilot Pamir Airways –di mana Bank Kabul punya saham– mendapat upah tahunan lebih dari 300.000 dolar untuk mengangkut uang mellaui wadah-wadah makanan milik maskapai penerbangan itu. Biaya-biaya ini, dari Maret 2008 hingga November 2010, dikategorikan sebagai “pilot pengantar uang”.
Sebanyak 66,2 juta dolar dipakai untuk membeli 2250 mobil dan sepedamotor, deposito palsu, dan pembayaran kepada para karyawan, baik yang tak memenuhi syarat untuk posisinya maupun yang tak pernah bekerja di bank tersebut.
Dan sebuah laporan tahun 2009 oleh agen mata-mata Afghanistan menunjukkan bahwa dana Bank Kabul dipakai membangun sebuah portofolio properti di Dubai yang nilainya ditaksir mencapai 151 juta dolar.
Rincian ini menggambarkan apa yang van Bijlert sebut “sekelompok orang yang menganggap hal itu sepenuhnya normal bahwa koneksi dan kekayaan mereka akan membuat mereka mendapatkan pinjaman (tanpa bunga) atau hadiah.” Di antara yang diduga mendapatkan pinjaman adalah saudara-saudara Presiden Afghanistan Hamid Karzai dan Wakil Presiden Pertama Marshal Fahim.

Melindungi diri
Vonis penjara Selasa lalu untuk Sher Khan Farnoud, pendiri-cum-pimpinan bank, dan Khalilullah Ferozi, kepala eksekutif bank, hanya berpengaruh kecil untuk memulihkan kepercayaan atas apa yang dipandang masyarakat sebagai sistem korup.
Shamsul Rahman Shams, ketua pengadilan khusus yang menyelidiki kasus bank itu, berkata saudara-saudara Karzai dan Fahim masing-masing masih berutang sembilan juta dan tiga juta dolar.
Mahmoud Karzai, pemegang saham terbesar ketiga, dan Hassin Fahim resmi didakwa melakukan kesalahan.
“Ini tak sesederhana bahwa presiden dan wakil presiden melindungi saudara-saudara mereka. Ini adalah sistem yang melindungi dirinya sendiri,” ujar van Bijlert.
Bukan mereka saja yang diduga terlibat. Bank Kabul dilaporkan memberi sumbangan kepada 30 sampai 40 anggota parlemen. “Banyak orang yang entah bagaimana terlibat,” kata van Bijlert.
Respon atas skandal ini terhambat oleh penyelidikan yang lambat atau tak memadai, dan keengganan untuk menelusuri jalur uang yang diambil dari negara ini dan mengadili mereka yang bertanggung jawab.
Hal itu, ujar van Bijlert, menggambarkan bagaimana seluruh proses telah menjadi “sebuah langkah pengurungan,” untuk membatasi kesalahan ditimpakan kepada kelompok yang dipilih dengan cermat.
Ini menegaskan persepsi di kalangan masyarakat bahwa para pelaku dan penerima keuntungan dari penipuan Bank Kabul belum diselidiki secara layak dan keputusan mengajukan dakwaan tak dibikin transparan –sebuah pandangan yang juga dimiliki MEC.
Dengan dana talangan bank, yang dibiayai lembaga donor internasional, sebesar hampir enam persen dari produk domestik bruto (PDB) Afghanistan, Dawood Azami, seorang Pemimpin Muda Dunia dari Afghanistan di Forum Ekonomi Dunia, berkata “Krisis Bank Kabul harus jadi kejutan cukup ampuh bagi struktur pemerintahan secara menyeluruh di Afghanistan guna bangkit dan merespon tantangan dengan tepat waktu.”
Namun Noorullah Delawari, gubernur Bank Sentral Afghanistan, berkata Bank Kabul bukanlah kasus yang sama sekali unik. “Seluruh dunia menghadapi masalah perbankan yang dahsyat dan masing-masing negara mengalami kesulitan untuk mengatasinya.”
Kendati dia setuju dengan temuan audit yang dikerjakan perusahaan investigasi Kroll bahwa Bank Kabul menjalankan “skema Ponzi yang disembunyikan dengan rapi”, Delawari mengatakan Bank Sentral sedang bekerja dengan pengawasan kurator guna mendapatkan kembali dana yang hilang sebanyak mungkin.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Delawari mengatakan, dalam “beberapa pekan ke depan” jumlah total dana yang diselamatkan kurator mencapai 225 juta dolar. Dia menyebutnya sebagai kemajuan besar berkat pendahulunya, Abdul Qadir Fitrat, yang kabur ke Amerika Serikat pada Juni 2010, karena penyelidikan itu membahayakan hidupnya.
“Hanya 20 juta dolar yang diselamatkan saat saya bergabung” pada November 2011, kata Delawari.
Namun, pukulan atas skandal itu terus bergema di Afghanistan dan luar negeri. “Kendati masyarakat dan investor mendapatkan uang mereka kembali setelah diselematkan oleh pihak berwenang, banyak orang berpikir dua kali sebelum menyimpan uang di bank,” ujar Azami.
Bagi Ahmad Barak, korupsi dan kesalahan penanganan dari penyelidikan berikutnya terhadap Bank Kabul menunjukkan kenyataan yang tak berubah dalam kehidupan Afghanistan modern.
“Inilah Afghanistan. Anda bodoh kalau Anda tak mencuri uang.”*
*Diterbitkan seizin Al Jazeera

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

 
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Blogger templates

 
Support : Creating Website | Riki Arianto | Copyright#Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ruang Menulis dan Campur Sari - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template