Headlines News :
Home » » Di Pusaran Perang yang Terabaikan

Di Pusaran Perang yang Terabaikan

Written By riki on Monday, March 11, 2013 | 3/11/2013 07:41:00 AM



Enzo Mangini



STEPANAKERT (IPS) – SEBUAH mobil 4x4 peninggalan Soviet menggerung di jalanan berlumpur menuju garis depan. Ini hari berkabut yang lain di dataran timur dari perbatasan wilayah kecil tapi otonom, Nagorno-Karabakh, yang terjepit di antara Armenia dan Azerbaijan.
Ibukotanya, Stepanakert (berpenduduk 50.000 jiwa), berada 30 kilometer sebelah barat. Baku, ibukota Azerbaijan, 400 km sebelah timur dan Yerevan, ibukota Armenia, 350 km sebelah barat. Wilayah ini dihuni warga Armenia.
Kota Agdam di sana penuh puing. Pernah menjadi tempat bagi 30.000 jiwa, kota itu tercabik konflik antara Armenia dan Azerbaijan pada masa Uni Soviet. Pada 1936, diktator Joseph Stalin menyerahkan wilayah itu pada republik Azerbaijan yang saat itu bagian dari Uni Soviet.
Sesudah pecah, rakyat di sana menuntut otonomi lebih luas dari Azerbaijan. Saat itu, rakyat Armenia berjumlah 75 persen dari 190.000 penduduk yang bermukim di wilayah seluas 11.500 kilometer persegi itu, menjorok ke dalam area Kaukasus, 2.400 km sebelah selatan Moskow.
Rakyat di sana menuduh Baku terseret apa yang disebut “Azerbaijanisasi”, dan ingin bergabung dengan Armenia yang baru saja merdeka. Ketika mereka akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Republik Nagorno-Kharabakh (NKR), Azerbaijan mengirimkan tank-tank tempur.
Antara 1992 dan 1993, 70 persen dari wilayah NKR ditaklukkan pasukan Azerbaijan. Armenia melakukan serangan balik, merebut kembali hampir semua tanah yang hilang, mendesak dan memotong zona penyangga di wilayah Azerbaijan sejauh beberapa kilometer. Azerbaijan tetap mengendalikan sebuah provinsi bagian utara yang kecil.
Perang itu menewaskan 30.000 jiwa dan menyebabkan sejuta orang mengungsi, nyaris seimbang di antara kedua kubu. Perang secara resmi tak pernah berakhir dan tentara masih bercokol di sana, di garis gencatan senjata pada 1994.
“Maaf, tak boleh memotret,” ujar seorang letnan dari Angkatan Bersenjata NKR kepada kami dalam perjalanan menuju garis gencatan senjata. Dia memberi hormat kepada komandannya, Letnan Colonel Arzvik, pria tangguh berumur 45 tahun bermata hijau, dua gigi emas, dan senapan berburu.
“Anda beruntung. Dengan hari berkabut begini, takkan ada penembak jitu,” ujar Arzvik. “Kemarin prajurit kami ditembak dua kali tapi musuh kami menghilangkan jejak. Tak ada penembak jitu hari ini, tapi kepala Anda tetaplah merunduk.”
Dia menunjuk arah jalan di depan. “Jalan ini menuju Baku. Tapi kami tinggal di sini seperti yang sudah kami jalani selama 19 tahun terakhir, sejak gencatan senjata. Kami tak tertarik merebut tanah Azerbaijan. Kami tetap menjaga posisi kami selama diperlukan dan tak melanggarnya sehari pun.”
Parit-parit mengingatkan suasana Perang Dunia I: dinding-dinding lumpur dilapisi gumpalan semen, dan pos beton kecil tempat para serdadu tidur sesudah tugas jaga malam. Senapan AK-47 dan senjata lain bersandar di satu sudut, di sisi sebuah kompor dengan ketel. Kabel dengan kaleng kosong terikat di sekitar mereka sepanjang garis pertahanan luar. “Bila mereka datang, kami mendengarnya,” ujar Arzvik. “Kami punya perangkat lebih modern, tapi yang ini sudah sangat efektif.”
“Wajib militer mengharuskan dua tahun tugas ketentaraan,” kata Arzvik. “Tapi kalau kami diserang, setiap orang di NKR akan angkat senjata. Sama seperti yang kami lakukan pada 1991.”
Para prajurit, hampir tak sepenuhnya menanggalkan raut remaja mereka, tampak efisien: membersihkan senjata, menyiapkan amunisi, dengan seragam musim dingin yang hangat dan sepatu boot baru. Tampak jelas mereka seharusnya pergi mencari kerja atau sekolah. Merekalah generasi pertama dari sebuah republik berpenduduk 150.000 jiwa, dengan parlemen, presiden, visa, dan kementerian sendiri –yang belum satu negara pun mengakui.
Ekonomi bergantung pada uang rakyat Armenia yang berdiaspora, tanpa investasi atau bantuan asing. Satu-satunya jalur keluar-masuk adalah melewati jalan pegunungan yang melintasi Armenia sepanjang Tamerlan Pass, setinggi 2.500 meter. Pemeirntah setempat ingin membuka kembali satu-satunya bandara udara di pinggiran Stepanakert, yang ditutup sejak 1992. Namun Azerbaijan mengancam akan menembak jatuh setiap pesawat yang mendarat di NKR.
Banyak buruh pindah ke Armenia untuk mendapatkan penghasilan lebih baik. Rerata upah bulanan setempat sekira 200 dolar (Rp 1,8 juta).
Lembaga swadya masyarakat (LSM) internasional absen, dengan pengecualian The Halo Trust, LSM dari Inggris yang fokus pada isu ranjau. Sejak perang berakhir pada 1994, lebih dari 350 orang tewas atau cidera oleh ranjau atau bom curah. The Halo Trust menaksir butuh waktu lima tahun untuk membersihkan ranjau. Dalam dua tahun terakhir, staf lokalnya dikurangi hingga setengah, dari 280 menjadi 140 orang.
Upaya perdamaian oleh Minsk Group, sebuah gugus tugas diplomatik yang dibentuk pada 1992 oleh Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) dan diketuai Amerika Seirkat, Prancis, dan Rusia, berhenti pada 2011. Presiden Rusia saat itu dan kini Perdana Menteri Dimitri Medvedev memperantarai pertemuan antara Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dan Presiden Armenia Serzh Sargsyan di Kazan, Rusia. Namun pertemuan tingkat tinggi itu gagal dan mendorong kekusutan lebih lanjut.
Terdampar dalam ketidakmenentuan politik, rakyat NKR membangun kembali ibukota Stepanakert dan desa-desa mereka di pegunungan, tempat luka perang masih terasa. Dalam konfrontasi antara dua tetangga yang saling bertempur, mereka sama sekali tak mendapat keuntungan, baik dari transformasi cepat ekonomi Armenia yang berorientasi Uni Eropa maupun manfaat kekayaan minyak Azerbaijan.
Konflik itu tidak mendapat perhatian dunia. Ketika dimulai pada akhir 1980-an, konflik itu digunakan dan diawasi sebagai peledak bagi keruntuhan Soviet. Kongres AS pada 1989 dan Parlemen Uni Eropa pada 1993 menyetujui resolusi yang mendukung hak rakyat Nagorno-Karabakh untuk menentukan nasib sendiri. Sesudah Uni Soviet ambruk, hanya sedikit yang memberi perhatian terhadap mereka.
Saat ini bisa jadi tahun penting. Pda 18 Februari, rakyat Armenia memilih kembali Serzh Sargsyan sebagai presiden dari republik berpenduaduk 3,5 juta itu, sekalipun ada keraguan hasil pemilu tersebut telah melalui proses yang bersih. Dia ingin menyelesaikan masalah tersebut dengan langkah-langkah membangun kepercayaan diri yang “kreatif”.
Di sisi lain, Baku menggunakan kekayaan minyaknya untuk mendapatkan dukungan internasional atas klaim-klaimnya. Presiden Aliyev, menjelang pemilu pada Oktober tahun ini, bisa tergoda oleh kebanggaan nasionalnya untuk mengikat lebih banyak dukungan dari 10 juta warga yang kian kecewa. Ini bisa diwujudkan ke dalam sikap lebih ofensif di kubu Azerbaijan di garis depan yang dijaga Letnan Arzvik dan serdadu mudanya.*

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik


 
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Blogger templates

 
Support : Creating Website | Riki Arianto | Copyright#Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Ruang Menulis dan Campur Sari - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template