Jim Lobe
WASHINGTON (IPS) – ADA sebuah sumber baru potensial terkait perseteruan antara
Presiden Barack Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu:
Israel dilaporkan memberikan perusahaan energi AS dengan koneksi politik sangat
besar guna mengeksplorasi minyak dan gas di wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan.
Perusahaan itu merupakan
anak perusahaan lokal dari Genie Energy Ltd, yang berbasis di New
Jersey. Anggota Dewan Penasihat Strategis dari anak perusahaan lainnya, Genie Oil and Gas, antara
lain mantan Wakil Presiden Dick Cheney, raja media Rupert Murdoch,
dan mantan politisi Republika Jim Courter.
Nama-nama lain termasuk
manajer investasi terkemuka, seperti Jacob Rothschild,
pemimpin kelompok J. Rothschild, dan Michael Steinhardt,
penyumbang utama untuk misi-misi Yahudi dan Zionis, khususnya Birthright Israel,
program multijuta dolar untuk memulangkan pemuda-pemuda Yahudi yang bertebaran
di mana-mana ke Israel.
Pemberian lisensi oleh
Menteri Energi dan Sumberdaya Air Israel, yang mula-mula diberitakan Dow Jones pada Kamis lalu, muncul di
tengah kecamuk perang sipil di Suriah, yang menuntut pengembalian Dataran
Tinggi Golan sejak Israel mengambilnya pada Perang Arab-Israel 1967.
Ia juga muncul sebulan
sebelum Obama dijadwalkan melakukan kunjungan pertamanya ke Israel sebagai
presiden.
Beberapa analis di
Washington membandingkan langkah itu dengan pengumuman pemerintahan Netanyahu
sebelumnya soal pembangunan permukiman baru di Tepi Barat atau Yerusalem Timur
–pada malam maupun selama pertemuan dengan para pejabat tinggi AS– yang berkontribusi
terhadap ketegangan terselubung di antara kedua pemimpin negara itu.
Pemerintah AS tetap bungkam tentang
langkah Israel pada Jumat lalu, membatasi diri dengan mengeluarkan pernyataan singkat
oleh Departemen Luar Negeri, yang menyatakan mengetahui tentang lisensi itu
dari laporan media.
“Kami bermaksud membahas masalah
ini dengan pemerintah Israel,” demikian pernyataan pers tersebut.
“Saya takkan terkejut jika ini
adalah bagian dari rencana Netanyahu untuk memberi tekanan tambahan pada AS,
seperti yang dia lakukan pada Presiden Obama di masa lalu,” ujar Charles Ebinger,
pakar energi dan Timur Tengah dari Brookings Institutions. “Dia terus mengubah
fakta-fakta di lapangan melalui perluasan permukiman dan sekarang ini di Golan.
“Dia terus mengambil
langkah-langkah itu, tak peduli terhadap Palestina atau Suriah. Ini kian
mempersulit bagi Arab untuk datang ke meja perundingan,” tambahnya. “Ini jelas
bertentangan dengan hukum internasional dan bertentangan dengan sejumlah
resolusi Dewan Keamanan PBB.”
“Langkah itu mungkin tak
bermaksud memprovokasi Amerika Serikat dari depan mata,” ujar Paul Pillar,
mantan analis jempolan Timur Tengah dari Badan Intelijen AS (CIA), “tapi muncul
hanya sebulan sebelum Presiden Obama dijadwalkan mengunjungi Israel, itu menunjukkan
sekali lagi bahwa pemerintahan Netanyahu jelas tak terganggu untuk melakukan
hal tersebut.”
“Israel mungkin
mengantisipasi pergantian rezim (Presiden Bashar Al-)Assad dengan penguasa baru
Suriah, yang akan mendorong lebih keras pengembalian Dataran Tinggi Golan. Ide itu
dari perspektif Israel akan berusaha memperkuat klaimnya atas wilayah tersebut,
dengan menciptakan lebih banyak fakta bukan hanya mengenai tanah tapi juga
bawah tanah,” ujarnya kepada IPS melalui
email.
Berbeda dengan Yerusalem
Timur, Israel tak berusaha “mencaplok” Dataran Tinggi Golan, kendati pada 1981
hukum dan pemerintah Israel mengakui wilayah tersebut –suatu langkah yang
dinyatakan “batal demi hukum” oleh Dewan Keamanan PBB. AS, yang beberapa kali
coba menengahi kesepakatan perdamaian antara Suriah dan Israel, tak pernah
mengakui pendudukan negara Yahudi di sana.
Dataran Tinggi Golan, di
mana pemerintah Israel mengatakan siap mengembalikannya ke Damaskus dengan
syarat-syarat tertentu, saat ini dihuni 32 perkampungan Yahudi dengan jumlah
penduduk sekitar 20.000 jiwa.
Pada 2008, Turki dilaporkan
nyaris memediasi kesepakatan damai antara Israel dan Suriah, termasuk pengembalian
Dataran Tinggi Golan, tapi upaya itu berantakan saat Israel melancarkan operasi
militer “Menuang Timah” (Cast Lead)
di Gaza akhir tahun itu.
Meski perang sipil
bergejolak di Suriah, pertempuran antara pasukan Assad dan kelompok pemberontak
hanya sesekali melintasi perbatasan di wilayah yang dikuasai Israel.
Beberapa analis berkata,
langkah itu tampaknya dirancang sebagian untuk mengambil keuntungan dari kekacauan
yang terjadi di wilayah Suriah.
Pemerintah Israel menolak
pengajuan izin pengeboran di masa lalu karena menghindari ketegangan dengan
Damaskus, menurut satu sumber yang banyak tahu tentang isu tersebut, yang
menolak namanya disebutkan.
“Dengan tidak adanya pemerintahan
yang berjalan efektif di Damaskus, saya menduga mereka berpikir tak ada salahnya
maju duluan,” ujarnya.
Seorang aktivis anti-Assad
terkemuka yang tinggal di AS, Huam Aldairi, mengatakan heran dengan langkah
Israel itu dan bertanya: “Bagaimana mungkin memberi lisensi pengeboran di
wilayah pendudukan?”
Aldairi, yang pernah
menjabat ketua Dewan National Suriah seksi AS dan kini wakil ketua oposisi Dewan
Suku di Koalisi Nasional, berkata langkah itu “hanya akan membantu tujuan
mendukung Assad melawan revolusi.”
“Saya sesungguhnya berpikir
bahwa itu adalah hal sangat negatif untuk dilakukan saat ini,” katanya kepada IPS dalam suatu wawancara di mana dia
menekankan bahwa dia bicara dalam kapasitas pribadi.
“Anda hanya mengagitasi
rakyat Suriah. Pada titik ini, mereka takkan terlalu khawatir tentang hal itu,
tapi dalam jangka panjang, harus ada resolusi damai mengenai Dataran Tinggi
Golan. Menurut pengakuan mereka sendiri, pemerintah Israel mengatakan itu
wilayah pendudukan. Jadi mengapa mereka menanamkan investasi jutaan dolar di
wilayah pendudukan?”
Lisensi tersebut, yang
dilaporkan ditentang masyarakat pemukim yang terkena dampak lingkungan di
antara alasan lain, akan mengizinkan Genie Israel Oil and Gas Ltd
melakukan pengeboran eksplorasi di sebagian besar daerah selatan Dataran Tinggi
Golan.
Genie, yang memegang lisensi
eksplorasi di daerah Shfela, Asia Tengah, lewat anak perusahaan Israel lainnya,
Israel
Energy Initiatives (IEI), dan perusahaan patungan dengan Total dari
Prancis untuk memproduksi serpih minyak di negara bagian Colorado, AS, menyatakan
pihaknya yakin bagian selatan Golan mengandung “jumlah signifikan minyak dan
gas konvensional dalam bentuk relatif padat.”
Tak jelas apakah persetujuan
lisensi itu dipengaruhi kekuatan dan simpati politik dari anggota Dewan
Penasihat Strategis, seperti Cheney yang merupakan pendukung setia pemerintah sayap
kanan Isarel selama menjabat wakil presiden AS dari 2001 hingga 2009.
Mogul media Murdoch, yang
antara lain menguasi jaringan Fox News
dan Wall Street Journal, juga
pendukung yang dapat diandalkan bagi posisi Partai Likud pimpinan Netanyahu
selama 15 tahun terakhir, dan terutama sejak 9/11. Hingga dia menjualnya
beberapa tahun lalu, Murdoch juga membiayai Weekly Standard, sebuah jurnal neokonservatif
garis keras, milik William Kristol.
Steinhardt menyediakan dana utama bagi
Yayasan untuk Pembela Demokrasi (FDD), sebuah kelompok lobi yang dikenal menganjurkan
kebijakan agresif atau suka perang (hawkish)
dan pandangannya seirisan dengan Partai Likud, sejak dibentuk hanya beberapa
hari setelah 9/11 hingga setidaknya pada 2008, menurut catatan pajak.
Seperti halnya Cheney dan terbitan-terbitan
AS milik Murdoch, FDD memperjuangan invasi Iraq dan, dalam beberapa tahun
terakhir, berperan penting dalam merancang dan melobi sanksi keras terhadap
Iran.
Dia juga ikut mendirikan dan
menyumbang jutaan dolar untuk Birthright Israel, sebuah program yang
memberikan biaya perjalanan ditanggung penuh selama 10 hari ke Israel bagi
puluhan ribu pemuda Yahudi dari seluruh dunia saban tahun. Dalam satu wawancara
dengan jurnalis AS Max Blumenthal pada rapat akbar di Israel tahun lalu, Steinhardt bersikeras bahwa “tak ada rakyat Palestina.”*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !